7 Tips Untuk Membantu Membuat Pembelajaran Daring Lebih Efektif

Nick Morrison

Agar berhasil, Pembelajaran Daring membutuhkan banyak hal yang sama dengan yang dilakukan dalam pembelajaran tatap muka: kejelasan, ulasan, memeriksa pemahaman, umpan balik yang cepat. Namun jarak menambah tantangan tambahan, dan mudah-mudahan tips ini dapat membantu.

Transisi mendadak dunia pendidikan dari belajar di sekolah berpindah ke rumah membuat semua sistem pembelajaran berubah. Beberapa pengajar mengirim file-file saja, sementara yang lain memastikan siswa memiliki perangkat, WiFi, dan kurikulum online yang koheren. Namun juga beberapa institusi merancangnya dengan lebih serius, tidak hanya menyiapkan rencana untuk siswa mereka sendiri tetapi juga memberikan akses gratis kepada publik. Beberapa penyedia kurikulum berkualitas tinggi juga menyediakan materi online gratis.

Tetapi bahkan dalam keadaan terbaik, Pembelajaran Daring dapat mengintensifkan tantangan yang melekat dalam pembelajaran tatap muka. Penelitian telah menunjukkan bahwa pembelajaran online umumnya tidak berfungsi sebaik instruksi tradisional — dan bahwa siswa yang sudah berjuang untuk belajar mungkin akan paling dirugikan. Namun, dalam minggu terakhir beberapa pakar dan guru telah memberikan tutorial, workshop bahkan pelatihan yang dapat membantu Pembelajaran Daring seefektif mungkin.

Berikut 7 tipsnya dari pengalaman penulis.

1. Ajak siswa untuk berpartisipasi.

Tantangan awal adalah memotivasi siswa untuk datang atau menyelesaikan tugas. Beberapa guru melaporkan bahwa kurang dari separuh siswa mereka secara teratur berpartisipasi dalam pembelajaran jarak jauh. Di bebwrpa sekolah, sepertiga siswa sekolah menengah tidak masuk. Masalahnya terutama di kalangan siswa dari keluarga kurang mampu dalam ekonominya, sebagian yang lain karena mereka sering kurang memiliki akses jaringan internet yang handal.

Tip pertama adalah buat tujuan dan harapan jernih dan menarik untuk siswa. Guru harus menentukan kapan siswa harus muncul dan tugas apa yang harus mereka selesaikan. Tekankan bahwa belajar mereka ubtuk mencapai sesuatu, akan lebih baik bila dikaitkan dengan contoh proyek atau produk yang dapat dihasilkan dari apa yang mereka pelajari.

Akan lebih baik juga memastikan lebih banyak siswa yang hadir daripada siswa yang mengerjakan tugas. Ini juga membantu memastikan bahwa siswa memiliki rencana yang jelas untuk kapan dan di mana mereka akan terlibat dalam pekerjaan sekolah.
Idealnya, berpartisipasi dalam pembelajaran jarak jauh akan menjadi kebiasaan — meskipun itu mungkin membutuhkan waktu; rata-rata, menurut pengalaman; butuh 2 bulan untuk membentuk kebiasaan.

2. Fokus pada konten

Bukan keterampilan pemahaman. Begitu siswa muncul, pertanyaan berikutnya adalah apa yang diajarkan. Jika memungkinkan, guru harus menahan dalam menerangkan. Berjam-jam menghabiskan waktu mendengarkan guru menjelaskan, ini akan membuat terputus dari konten, sebagian besar terbuang. Berfokus pada topik yang dikaitkan dengan hasil dan implementasi nyata di sekitar kita. Eksplorasi, pencarian, menemukan dan menyelesaikan suatu masalah meski menghabiskan setidaknya beberapa minggu untuk suatu topik — jauh lebih mungkin untuk membangun pengetahuan dan kosa kata yang sangat penting untuk dipahami.

Sebagai contoh dalam pengajaran bahasa, daripada meminta siswa berlatih “menemukan ide utama” pada petikan suatu paragraf, lebih baik jika guru mengajukan pertanyaan yang membuat anak-anak berpikir secara mendalam tentang cara kerja sesuatu atau tata surya — atau konten substantif apa pun yang termasuk dalam kurikulum. Dan sebelum melompat ke pertanyaan yang memerlukan analisis, guru perlu memeriksa bahwa siswa memiliki pemahaman literal tentang materi pelajaran dengan bertanya, misalnya, “Apa itu binatang nokturnal? … Apa bedanya mereka dengan jenis binatang lain? ”

Salah satu cara yang mungkin untuk membuat siswa tertarik, dan membangun pengetahuan mereka, adalah dengan mengajarkan tentang pandemi saat ini. Para siswa mungkin tidak pernah lebih terlibat daripada sekedar mendengar perkembangan dan berita. Tetapi guru mungkin ingin mengevaluasi tingkat kecemasan siswa mereka sebelum mempelajari pandemi ini atau yang lainnya. Sebagai contoh seorang guru sejarah sekolah menengah yang berpikir untuk memasukkan sebuah unit pembelajaran tentang wabah pes dan bagaimana perkembangannya hingga hari ini.

3. Tetap sederhana.

Arahan dan harapan yang sederhana dan jelas selalu penting, tetapi tidak pernah lebih daripada dalam situasi di mana guru tidak dapat dengan mudah mengukur ketika siswa mengalami kebingungan. Beberapa pertimbangan bersifat logistik: cobalah untuk tidak menggunakan terlalu banyak aplikasi atau platform yang berbeda pada rutinitas kelas yang berbeda. Di sisi substantif, penting untuk berhati-hati dalam memperkenalkan materi baru. Pembelajaran jarak jauh umumnya paling baik untuk ditinjau. Para guru perlu berkonsentrasi untuk memperkuat apa yang telah dipelajari siswa, jangan sampai mereka melupakannya.

4. Hubungkan konten baru ke yang lama dan berikan contoh.

Tentu saja, mengingat situasi ini kemungkinan akan berlangsung ulama, guru pasti perlu membawa materi baru. Seperti halnya pengajaran di kelas, yang terbaik adalah menghubungkan informasi baru dengan apa yang telah dipelajari siswa — atau, jika mereka lupa konteks yang akan membantu mereka memahami dan mengingat materi baru, beri tahu mereka di mana mereka dapat menemukannya. Faktor terpenting dalam mempelajari hal-hal baru adalah apa yang sudah diketahui.

Ketika memperkenalkan konsep atau keterampilan baru, guru harus memberikan contoh kepada siswa. Mereka mungkin menunjukkan kepada anak-anak masalah matematika yang sudah diselesaikan atau video di mana mereka menunjukkan bagaimana menyelesaikannya, menjelaskan apa yang mereka lakukan dan mengapa.

5. Bagikan informasi baru dalam waktu singkat.

Ini hal terbaik untuk membatasi jumlah informasi baru yang diperoleh siswa dalam satu sesi. Menurut beberapa penelitian, keterlibatan siswa turun secara signifikan ketika video bertahan lebih lama dari sembilan hingga dua belas menit. Daripada kelas online 45 atau 60 menit, sediakan segmen tidak lebih dari 15 atau 20 menit, terutama jika materi pelajarannya baru atau usia siswa lebih muda. Memecah informasi dan menyampaikannya dalam sesi yang lebih singkat — dan kembali ke poin yang sama di kemudian hari — mengambil keuntungan dari apa yang oleh psikolog disebut “efek penspasian” atau praktik terdistribusi, yang mendorong pembelajaran.

6. Jadikan pembelajaran online seinteraktif mungkin.

Siswa memerlukan kesempatan tidak hanya untuk mendengarkan atau membaca tetapi untuk secara aktif memproses informasi yang disajikan. Beberapa platform memungkinkan guru untuk memberikan kuis singkat dan mendapatkan hasil langsung. Bahkan jika para guru tidak memiliki pilihan itu, meminta siswa memeriksa sendiri secara berkala atau menjawab pertanyaan tentang kapan, apa, di mana, atau mengapa sesuatu terjadi adalah suatu bentuk praktik pengambilan, yang membantu siswa menyerap dan mengingat materi. Sebagai contoh praktek, seorang guru bahasa Inggris sekolah menengah, membuat rekaman dirinya membacakan teks kelas dengan keras dan secara berkala meminta siswa untuk menghentikan video untuk menjawab pertanyaan yang diajukannya. Idealnya, guru tidak hanya akan bertanya tetapi mendengar atau melihat jawaban — dan jika mereka salah, berikan siswa jawaban yang benar atau bimbing mereka untuk mengetahuinya

7. Seimbangkan pembelajaran sinkron dan asinkron.

Pembelajaran jarak jauh dapat dilakukan baik secara sinkron, dengan semua orang online pada waktu yang sama, atau secara tidak sinkron, dengan siswa mengakses pelajaran yang sama di waktu yang berbeda. Pelajaran sinkron lebih sulit untuk direkayasa dan tidak memungkinkan banyak waktu untuk latihan, tetapi penting untuk menyertakan setidaknya beberapa saat ketika seluruh kelas sedang online bersama. Tidak hanya itu memungkinkan umpan balik guru yang cepat, itu memungkinkan guru dan siswa untuk menjaga koneksi dan merasa menjadi bagian dari kelompok — yang sekarang lebih penting daripada sebelumnya. Dan dengan usia siswa yang lebih muda, meminta orang tua untuk mengawasi pembelajaran asinkron bisa menjadi masalah tersendiri, sebab orang tua juga memiliki beberapa keaibukan lain. Mungkin tidak sepenuhnya live di kamera namun atur kapan liblve, kapan eksplorasi, kapan bekerja kelompok, kapan mengerjakan kuis lalu live kembali.

Meskipun tidak mungkin menerapkan semua kiat ini, namun setidaknya dapat membantu. Dan ketika kita belajar lebih banyak tentang cara kerja pembelajaran jarak jauh, kita dapat mencoba melakukannya dengan lebih baik — karena bahkan setelah krisis saat ini berakhir, kita mungkin perlu melakukannya lagi, bahkan mingkin dapat meringankan beban para guru.

Author:

I Am the Admin