Investasi Abadi Menjadi Guru Tidak Sekadar Mulia, tetapi Bahagia

Investasi abadi menjadi guru tidak sekadar mulia, tetapi bahagia disampaikan Drs Najib Sulhan MA dalam kegiatan Kajian di SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Surabaya, Sabtu (19/8/2023).

Dalam kegiatan yang dilaksanakan di Lantai 2 Smamda Tower dengan tema Kehidupan dalam Mengembangkan Profesi Menurut Muhammadiyah yang diikuti guru dan karyawan ini, dia meyakini jika seleksi guru di Smamda begitu ketat.

“Saya yakin begitu ketat, Bapak dan Ibu guru di sini luar biasa sekali bisa masuk di SMA Muhammadiyah 2 Surabaya ini. Harus merasa sangat bersyukur, tak lupa menyiapkan program kemajuan utamanya untuk diri sendiri dulu menurut Muhammadiyah itu seperti apa,” ungkapnya.

Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Mulyorejo ini menuturkan, Allah itu sudah menjamin untuk kita. Menjamin seluruh urusan kita. Jika ada urusan yang belum selesai berarti ada bagian ketakwaan diri yang hilang.

“Setiap takdir yang diberikan Allah pasti ada hikmah yang luar biasa,” jelasnya. Dia juga mengungkapkan jika dulunya pernah menjadi direktur kemudian beralih profesi menjadi guru, mungkin orang lain akan melihat kasihan.

“Tapi ternyata Allah siapkan perasaan yang lebih nyaman ketika menjadi guru,” tegasnya.

Alumnus Universitas Muhammadiyah itu mengingatkan jika beribadah adalah bagian dari takwa. Ini harus diwujudkan dalam setiap harinya. Jika tidak merasakan hal itu, bahkan merespon marah, emosi dan sebagainya tidak akan mendapatkan makna dan hikmah di balik semua peristiwa dalam hidup.

“Wujudkan visi misi semua yang kita lakukan dalam hidup adalah untuk ibadah,” pesannya.

Seperti yang tertulis dalam Surah al-Baqarah ayat 201, menjelaskan tentang mencapai kehidupan bahagia. “Kita punya tujuan tapi tidak memahami untuk apa tujuan itu. Tidak menargetkan untuk ibadah ya tidak akan merasakan kehidupan bahagia,” ungkapnya.

Begitu pula pada perilaku guru, karyawan di dalam sebuah sekolah. Agar sama-sama berbahagia maka semuanya harus menggunakan produk hati. Tutur kata, keseharian, semuanya adalah produk hati. Kalo hatinya baik produknya juga akan baik.

“Kata Rasulullah, di dalam tubuh kita ada segumpal darah, jika segumpal darah itu baik maka semua yang dihasilkan akan baik. Tapi jika segumpal darah itu kurang baik maka hasilnya juga akan kurang baik. Maksudnya adalah dalam hati jika sudah diniatkan hidup untuk ibadah maka semuanya insyaAllah akan baik dan berbahagia,” jelasnya.

Hati Bahagia

Najib Sulhan tak lupa ia berpesan pula, jika mendidik anak jangan sampai mengutarakan kata-kata yang buruk. Ini yang akan menghasilkan karya-karya terbaik dari seorang ibu.

“Sama halnya dengan guru, jika hatinya bahagia, baik maka hasil pengajarannya kepada anak-anak juga akan baik. Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk mengikuti dan menyukai kita, tapi kita yang harus berfikir positif kepada orang lain,” pesannya.

Dia mengungkapkan, karyawan yang baik punya 2 syarat yaitu kuat dan amanah. Kuat fisik, potensi, dan sebagainya. Adapun amanah yang dimaksud adalah bisa berkomitmen. Salah satu yang sering dibahas berulang dalam pendidikan sekarang adalah tentang Kurikulum Merdeka.

“Dalam penjelasannya, Kurikulum Merdeka nantinya akan terjadi evaluasi secara alami. Mengapa hal tersebut terjadi? Karena banyak guru yang masih berpikir secara admnistrasi, ada ATP dan lainnya. Tugas utama yang paling penting sebenarnya ya anak-anak kita, diferensiasinya,” ungkapnya.

Dia menegaskan jika guru itu profesi yang paling menguntungkan. Guru itu mulia dan dimuliakan Allah, derajat yang tinggi, investasi abadi, pekerjaan paling untung.

“Orang yang bersyukur adalah orang yang bisa menikmati apa yang dilakukan saat ini. Di al-Quran sendiri ada lebih dari 60 ayat lebih yang menjelaskan kemuliaan seorang guru. “Guru adalah profesi abadi yaitu shodaqoh jariyah, karena ngajarnya dengan ikhlas dan gembira mampu menggembirakan anak-anak kita,” tandasnya. (*)

Penulis Fibrina Aquatika. Editor Ichwan Arif.