Perjalanan Panjang Kontingen Smamda Surabaya Raih 12 Medali Olympicad Ke-7 Bandung

Smamda – Gelaran Olympicad (Olympiad Ahmad Dahlan) Ke-7 memang sudah berlalu beberapa waktu lalu. Namun, sukacitanya masih terasa, setidaknya bagi kontingen SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Surabaya.

Tidak hanya kebanggaan karena mereka berhasil mempersembahkan 12 medali untuk Jawa Timur pada 9 mata lomba, tetapi juga pengalaman berharga bagi seluruh peserta pada ajang yang diikuti guru dan siswa sekolah Muhammadiyah se-Indonesia itu.

Rombongan Smamda memulai perjalanan ke Bandung, Jawa Barat, dilepas oleh Kepala Sekolah Astajab SPd MM beserta wali dari peserta yang berangkat Selasa sore (5/3/2024). Menempuh perjalanan kurang lebih 11 jam dalam satu bus tentu melelahkan, surprisingly, tapi 33 peserta dari Smamda Surabaya ini sangat bersemangat untuk berlaga di Olympicad.

Maklum, selama pandemi kebanyakan lomba-lomba serupa diikuti secara online saja. Pembinaan pun masih sesekali dilakukan secara hybrid.

Begitu datang dan memasuki penginapan yang terletak tak jauh dari lokasi lomba, mereka langsung bersiap untuk berlatih lagi lepas subuh.

Zaneta Tertia, Ketua IPM Smamda Surabaya.

Kesan Siswa

Ada dua hal yang berkesan di ajang Olympicad kali ini, khususnya bagi kontingen dari SMA Muhammadiyah 2. Yang pertama adalah ukhuwah islamiyah, persahabatan dan keakraban yang terbentuk antarpeserta lomba maupun dengan sesama teman seperjuangan dari asal sekolah masing-masing yang juga berjuang di Olympicad ini.

Selama tinggal dua malam di penginapan berbentuk rumah yang berukuran cukup besar itu, dengan 5 kamar tidur yang luas, 4 kamar mandi, kolam renang dan musala pribadi. Para siswa tidur dalam satu kamar besar yang dapat diisi lebih dari lima anak. dalam sekejap, tempat itu berubah menjadi semacam kamp karantina bagi peserta.

Tiap ruangan diisi oleh anak-anak untuk berlatih pidato dalam bahasa Inggris, bahasa Arab, belajar biologi dan matematika, presentasi majalah, hingga lintasan untuk lomba robotik. Tidak ada waktu untuk bersantai, hanya sesekali memandang keluar melihat sawah dan gunung yang terhampar dari balkon lantai dua kamar.

Di tempat itu juga seluruh peserta menjadi lebih akrab dan dekat, terkadang di waktu istirahat mereka bertukar cerita atau menanyakan satu dua soal bahan lomba kepada siswa yang lebih senior. Para guru pun layaknya pengganti orang tua mereka, memastikan mereka shalat tepat waktu dan makan dengan tertib.

Tibalah hari perlombaan yang ditunggu, ada tiga lokasi dengan jenis lomba yang berbeda. Untuk lomba mata pelajaran dilaksanakan di SMA/SMK Muhammadiyah Cilengkrang, Aisyiyah Boarding School untuk lomba Inovasi Belajar, dan UMB untuk mata lomba ismu in Arabic, Ismu in English, News Reading, Business Plan, Robotik, Story Telling, KTI, dan Majalah sekolah jenjang SMA.

Maka 33 peserta dari Smamda Surabaya ini berpisah menuju tempat masing-masing. Kerja keras memang membuahkan hasil manis ketika di hari kedua di beberapa lomba sudah mengumumkan 15 atau 30 terbaik dari babak sebelumnya maupun finalis untuk melaju ke babak berikutnya. Ada juga beberapa yang sudah tinggal menunggu awarding dan menerima medali.

Farah Amelia (kanan, berkacamata), Bendahara IPM Smamda Surabaya.

Di Olympicad kali ini memang tidak semua menang, meski yang masuk final terhitung banyak, tapi bukan kesedihan yang ada di raut mereka, bukan kegagalan yang mereka bawa pulang ke Surabaya. Ada hikmah, teman baru, teman lama yang sudah lama terpisah namun bertemu kembali, dan pengalaman baru yang didapatkan selama tiga hari di sana.

Seperti ketika sama-sama menunggu giliran presentasi, tim KTI Smamda yang kala itu menunggu sendiri mendapatkan semangat dari tim lain, siswa-siswi Trensains Sragen yang kebetulan berjumlah lebih banyak. Saling berbagi ilmu dan saling menjaga barang-barang manakala lainnya sedang masuk ke ruang presentasi.

Siswa-siswi Smamda juga bisa lebih bersemangat ketika mendengar beberapa kontingen dari luar pulau yang sudah berangkat jauh-jauh hari dengan moda transportasi kapal laut seperti kontingen asal Papua, atau seperti kontingen Sulawesi yang biaya akomodasinya saja mencapai delapan juta rupiah per siswa/guru membuat para siswa lebih bersyukur dengan apa yang sudah mereka semua lalui. Mereka jadi lebih bersabar dan no sambat-sambat club.

Hal kedua yang menjadi Olympicad ini tetap menjadi ajang membanggakan bagi Smamda Surabaya adalah banyaknya pengurus IPM Smamda yang menjadi kontingen peserta Olympicad bahkan menjadi juara. Tercatat 3 tim inti (Zaneta Tertia, Farah Amelia, Fabian Fianda) dan 3 anggota aktif (Raihan Adzizaki, M. Fakhruddin, dan M. Hasan Arasy) sebagai Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PR IPM) Smamda Surabaya yang ikut ke Bandung.

Sang ketua, Zaneta Tertia, menyampaikan rasa senangnya dapat ikut serta menjadi salah satu perwakilan sekolah.

“Saya senang dapat berpartisipasi di perlombaan Olympicad 2024,” ucapnya.

Bagi Zaneta, Olympicad merupakan pengalaman yang baru tahun ini, terutama mengikuti lomba matematika.

“Kesempatan ini tidak bisa saya lewatkan di tengah-tengah kesibukan saya sebagai seorang ketua IPM. Saya sempatkan berlatih di waktu luang yang saya miliki untuk dapat mengikuti perlombaan ini. Walaupun belum beruntung, tidak ada penyesalan yang saya rasakan. Karena yang terpenting adalah prosesnya yang berperan besar dalam perkembangan diri saya,” ujar siswi kelas 11 yang biasa dipanggil Anet ini.

Lain halnya dengan Farah Amelia, Bendahara Umum IPM Smamda Surabaya ini berhasil menyabet medali perak melalui presentasi apik hasil duet dengan Elrica Parisya Athaya H. Pada mata lomba majalah sekolah. Sebenarnya selain sibuk berorganisasi di IPM, Farah juga aktif di ekstrakurikuler jurnalistik dan majalah Smamda, yaitu NEXT.

Farah mengaku kedua hal tersebut merupakan kegemarannya.

“Kalau saya pribadi, sangat senang, karena saya tidak expect dan hanya ingin melakukan yang terbaik buat kompetisi. Alhamdulillah bisa berprestasi” tutur gadis berkacamata ini.

Baginya, berbicara di depan orang asing seperti kedua juri kali ini adalah hal biasa. Sudah terlatih sejak di IPM, penjelasannya runut, terstruktur. Pembawaannya yang tenang dan tata bahasa yang baik dalam menjawab pertanyaan juri mempermudah dirinya dan tim.

Apakah tidak bingung anak-anak ini dengan segala aktivitasnya?

“Saya berusaha membagi waktu dengan maksimal, karena lomba saya bersama dengan Elrica jadi saya berusaha mengikuti ritme latihan partner saya. Apabila sedang free dan tidak ada latihan, saya bisa membantu teman-teman untuk ber-IPM,” terang Farah mantap.

Masib ada lagi peraih medali emas bidang robotik yang juga anggota IPM Smamda. Mereka adalah rekan setim, Raihan Adzizaki dan M. Fakhruddin. Meski baru kelas 10, kontribusi mereka berdua melalui prestasi robotika dan IPM merupakan nilai tersendiri bagi Smamda Surabaya yang mengusung tagline Excellent with Achievement.

(Rimba/AS)