Putri Bung Tomo : Sekolah Jangan Hanya Mencari Nilai

Smamda – Upacara Kemerdekaan Ke-78 Republik Indonesia di SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (Smamda) dihadiri putri ketiga Bung Tomo, Sri Sulistami, Kamis (17/8). Acara berlangsung di sport center lantai 8 gedung Smamda Tower. Bunda Lista, sapaan akrabnya, mengenakan baju merah dan kerudung putih.

Kehadiran Bunda Lista kali ini dalam rangka memberikan motivasi cinta tanah air. Selain itu, menularkan semangat juang Bung Tomo kepada siswa-siswi dan seluruh warga Smamda seusai pelaksanaan upacara.

“Alhamdulillah, saya senang bisa hadir di sini, bertemu dengan siswa-siswi SMA Muhammadiyah 2 Surabaya,” ungkapnya. “Sekolah yang terkenal dengan kedisiplinannya, prestasinya yang luar biasa,” imbuhnya.

Masa Muda Bung Tomo

Ia juga sangat bersyukur telah menjadi salah satu putri dari Pahlawan Nasional Bung Tomo. Bunda Lista lantas mengisahkan masa kecil ayahnya.

“Ayah saya bukan berasal dari keluarga kaya, tetapi miskin, sangat miskin,” kisahnya. Ia menceritakan bahwa ayahnya belajar di bawah lampu penerangan.

Bung Tomo, di masa kecilnya, juga pernah menjadi kuli bola tenis. Karena itu, meskipun dari golongan rakyat kecil, ia bisa memainkan olahraga yang dimainkan oleh rakyat menengah ke atas.

Selain itu, untuk memenuhi kebutuhan, sang ayah juga menjadi seorang loper koran. “Ayah saya memulai karirnya di sana,” lanjutnya. Tak hanya berjualan dengan kecerdasan, berita koran pun dianalisis dan dipelajari.

Pembentukan Karakter Anak

Putri ketiga pasangan Sutomo dan Sulistina ini menceritakan bahwa orang tuanya sukses membesarkan keempat putra-putrinya meskipun bukan berasal dari keluarga mampu.

“Sejak kecil, kami sudah diajarkan untuk cinta tanah air dan peduli dengan sesama, yaitu dengan cara mengajak kegiatan mengunjungi rakyat/warga/masyarakat yang tanahnya digusur paksa dan PHK. Tanpa meminta bayaran memperjuangkan sampai menang di pengadilan tanpa meminta imbalan. Dan warga dengan sukarela membalas jasanya dengan memberikan hasil pertanian/perkebunan,” bebernya.

Pensiunan Kementerian Kesehatan RI ini kembali mengisahkan tentang Bung Tomo pada masa perjuangan.

Pada saat Inggris ingin menjajah kembali Indonesia, ketika memasuki Kota Surabaya, Bung Tomo memberikan semangat berjuang yang diiringi dengan pekik takbir. Semangat juang itu disiarkan melalui pemancar radio sederhana di atas genting di RRI di Jalan Mawar, yang kadang harus berstrategi supaya lepas dari incaran tentara Inggris.

“Inilah yang membakar semangat arek-arek Surabaya untuk berperang melawan Inggris,” tuturnya. “Semangat juang serta kecintaan bangsa dan tanah air inilah yang kalian semua, siswa siswi Smamda, harus teruskan,” pintanya.

Perjuangan sosok Bung Tomo dalam mendidik anaknya menjadi salah satu pembentukan karakter anak. Pastinya, guru-guru seperti di Smamda juga harus membina siswa-siswi.

“Karena kalian masa depan, generasi penerus bangsa. Jangan sampai melewatkan masa gemilang ini. Teruslah berkarya dan berkreasi,” pintanya lagi.

Bunda Lista juga berpesan ketika kuliah nanti jangan hanya mengejar nilai atau prestasi. Tetapi harus memiliki jiwa kecintaan terhadap bangsa dan tanah air.

Kemudian, gunakan medsos sebagai aktualisasi diri yang menunjukkan cinta kepada tanah air. “Kalian boleh juga berpolitik. Jangan antipolitik, tetapi jangan sampai menjadi korban politik. Jadikan politik ini untuk memajukan bangsa dan tanah air Indonesia,” terangnya.

Berikutnya, ikutilah kegiatan kepramukaan yang bisa mencetak karakter kepedulian terhadap sesama, bangsa, dan tanah air. (Tanti Puspitorini/AS)