Self Management Training Smamda Surabaya Patahkan Stigma Buruk Generasi Z

Smamda – Lapangan upacara Depo Pendidikan (Dodik) Bela Negara Rindam V/Brawijaya Rampal, Klojen, Malang, menjadi saksi kelulusan siswa SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (Smamda Surabaya), Sabtu (10/2/2024) lalu, dalam kegiatan diklat Self Management Training 2024.

Kelulusan 82 siswa yang menjadi peserta itu ditetapkan melalui upacara penutupan yang dihadiri oleh wali siswa.

“Menetapkan kelulusan siswa SMA Muhammadiyah 2 Surabaya dalam latihan dasar kepemimpinan dan manajemen diri,” begitulah pembacaan ketetapan oleh Letkol Inf Dr Drs Abdul Rahman MSi, Kepala Satuan Dodik Bela Negara Rindam V/Brawijaya.

Upacara penutupan dan penetapan kelulusan itu mengakhiri masa pendidikan dalam kegiatan Self Management Training (SMT) 2024 Smamda Surabaya. Sebanyak 82 siswa terpilih mengikuti kegiatan tersebut sejak Rabu (7/2/2024) atau selama 4 hari.

Dengan tajuk “Mengasah Kepribadian Mandiri, Bertanggungjawab, dan Berkarakter Islami”, peserta diharapkan dapat menjadi pribadi yang tangguh dan tahan banting dalam segala kondisi. Harapan ini disampaikan oleh Ketua Panitia Darwis Okta Effendi SS.

“Mereka ini yang akan mematahkan persepsi bahwa generasi Z adalah generasi yang melempem. Mereka akan membuktikan bahwa masih ada generasi Z, khususnya generasi muda Muhammadiyah, adalah generasi yang mandiri dan tangguh pada zamannya,” paparnya.

Disiplin 4 Hari, Menangis Haru di Hari Terakhir

Selama 4 hari melaksanakan kegiatan di Dodik Bela Negara Rampal, para peserta dididik dengan pembiasaan mulai hal yang sederhana. Misalnya soal kedisiplinan waktu. “Di setiap kegiatan, para peserta dituntut untuk datang tepat waktu. Bahkan termasuk urusan istirahat dan makan,” ungkap Darwis.

Bukan hal yang mudah membiasakan kedisiplinan tingkat tinggi bagi para peserta. Namun, jika dinilai berdasarkan perkembangan siswa hari demi hari, menurut Darwis, dampaknya positif dan menunjukkan progres.

“Padahal hanya 4 hari, tapi para siswa bisa belajar dan berkembang menjadi lebih baik setiap harinya,” lanjut guru Bahasa Indonesia di Smamda Surabaya tersebut.

Di hari terakhir pada saat upacara penutupan, kegiatan ditutup dengan aksi yel-yel para peserta.

“Apakah ada Smamda di hatimu?” teriak koordinator yel-yel Hilal dan Radja saat penampilan. “Ada…. Ada…. Ada….” jawab para peserta disambut tepuk tangan wali siswa.

Aksi tersebut bersamaan dengan turunnya gerimis di Kota Malang. Ketika hujan mulai turun deras, para peserta diminta untuk segera menemui orangtua dan guru pendamping yang berada di tenda sebelah timur.

Di momen inilah, para peserta tak kuasa menahan tangis haru. Ada yang menangis haru sambil memeluk ibunya, ada pula yang menangis memeluk guru pendamping.

Salah satunya, Zia Almira, yang menangis di pelukan Rany Gustia, guru Sosiologi Smamda yang bertugas sebagai guru pendamping.

“Saat diminta untuk mendatangi orang tua dan guru di tenda, saya lihat Zia langsung berlari menuju saya dan langsung memeluk saya sambil menangis,” terang Rany.

Kesan Orangtua dan Tindak Lanjut

Darwis menuturkan, perlu adanya pendampingan dari orangtua selama satu bulan ke depan untuk meninjau perkembangan para peserta setelah mengikuti kegiatan SMT 2024.

“Kami mengimbau kepada orangtua untuk mengawal perkembangan karakter para siswa selepas kegiatan. Sebab, pembiasaan selama empat hari tidaklah cukup jika tidak dilanjutkan dengan pembiasaan di luar kegiatan,” tandasnya.

Para orangtua menyambut baik hasil dari kegiatan ini. Salah satunya Karina Wardani, orangtua dari salah satu peserta bernama Riffat. “Alhamdulillah, barisan anak-anak lebih rapi daripada saat pembukaan,” tulis Karina dalam pesan grup WhatsApp orangtua peserta.

(Muhammad Zarkasi/AS)