Tips Memilih Sekolah yang Tepat di Masa Pandemi

Smamda – SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Surabaya menyelenggarakan seminar parenting secara daring, Sabtu (3/4/2021). Pesertanya: para wali murid dari SMP Negeri 7, 16, dan 19 Surabaya. Mengusung tema ‘Kiat Mempersiapkan Pendidikan Anak yang Lebih Baik Menghadapi Era Digital di Masa Pandemi’, seminar parenting ini menghadirkan psikolog Amanto Prayudisiono. Amanto memberikan pencerahan terkait kondisi anak di masa pandemi dan cara memilih pendidikan untuk anak. “Pandemi seperti ini orangtua dituntut cerdas menyikapi perilaku anak-anaknya,” katanya.

Kondisi Anak di Masa Pandemi dan Sikap Orangtua

Psikolog lulusan Universitas Surabaya itu, mengisahkan masa pandemi ini banyak orangtua yang mulai frustasi. “Banyak orangtua yang datang kepada saya mengeluh tentang nasib anak-anaknya ke depan. Anak kerap dengan dunianya sendiri, main game, asik di kamar, dan lainnya,” terangnya. Menurutnya, orangtua bisa menyiasatinya dengan banyak interaksi dengan anak. “Tidak perlu emosi tapi lebih banyak berinteraksi dan berkomunikasi. Jangan sampai kita tidak bisa berkomunikasi dengan anak,” katanya.

“Maka dari itu, figur orangtua bisa jadi teman kalau di rumah, bisa jadi orangtua bahkan jadi guru kalau ditanya apa saja yang berkaitan dengan norma-norma dan nilai-nilai,” sambungnya. Menurut Amanto, dengan kondisi seperti ini akhirnya orangtua harus cerdas, harus tampil yang baik agar anak mendapatkan figur yang diharapkan. Hal-hal tersebut juga erat kaitannya dengan memilih sekolah.

Memilih Sekolah yang Sebenarnya

Dia menekankan, orangtua harus cerdas, tidak boleh sembrono memilih sekolah untuk anaknya. Orangtua harus memikirkan kalau sekolah di situ anak bisa berkembang atau malah menurun. Intelegensinya tambah baik atau menurun. Kepribadiannya bisa bertambah atau menurun bahkan komunikasinya efektif atau tidak.

“Memilih pendidikan adalah hal yang utama. Jangan dibuat main-main. Kalau kita sampai membuat main-main pendidikan nanti dampaknya tidak akan menjadi anak yang hebat. Malah jadi anak yang depresi, karena kondisi itu dipengaruhi oleh lingkungan sekolah,” kata Ketua Asosiasi Psikolog Sekolah Indonesia (APSI) itu.

Memasuki ke tahap pendidikan SMA, anak akan menemukan jati diri. Tahapan SMA itu sangat krusial sehingga anak-anak harus berada di tempat yang tepat. Salah satu sekolah yang baik mampu memberikan ruang bagi siswanya menyalurkan soft skill yang dimiliki. Lebih lanjut, Amanto menerangkan anak pun harus menyiapkan diri menuju bangku SMA. Pertama, anak harus mandiri. “Anak tidak bisa mengandalkan guru terus dan belajar mencari ilmu di luar sekolah,”

Kedua, anak harus memiliki target. Berap lama waktu untuk lulus dan membiasakan diri membuat deadline tugas ydari guru. Ketiga, mampu menyaring nilai. Anak mampu membentengi diri dari doktrin nilai dalam lingkungan pergaulan dan bijak mengikuti kegiatan yang mereka ikuti.

Selain itu, Amanto juga memberikan pencerahan kepada orangtua dalam memilih sekolah. Pertama, biaya. “Orang tua harus bijak menyekolah anak sesuai dengan ekonominya,” katanya.

Kedua, nilai. Nilai bisa dilihat berdasarkan nilai raport atau tes masuk. Hal itu bisa dijadikan bahan pertimbangan.

Ketiga, jarak. “Perjalanan ke sekolah dilakukan setiap hari, jarak sekolah pun menjadi hal pertimbangan,” jelasnya.

Selanjutnya yakni pergaulan dan jam belajar. “Orangtua harus memastikan pergaulan di lingkugan tersebut. Selain itu, orangtua juga memastikan muatan lokal atau ekstrakurikuler yang ada di sekolah yang akan dipilih,” katanya.

Terakhir yakni minat anak. “Anak sudah bisa berpendapat dalam memilih sekolah. Orang tua sebaiknya mendengarkan dan memasukkan pendapat mereka ke dalam bahan pertimbangan,” terangnya.

Revolusi Pendidikan

Koordinator Publikasi PPDB Smamda Darwis Okta mengatakan selain dalam rangka PPDB, yang meatarbelakani seminar ini adalah masa pandemi yang membuat orangtua masih bimbang untuk menentukan dan mengarahkan anaknya terkait semangat belajar. Tidak hanya itu, menurutnya, para siswa juga harus berhadapan dengan digitalisasi sehingga membuat orang tua semakin takut akan perubahan sikap dan mental anaknya.

“Nah, sistem pembelajaran online ini membuat orangtua semakin bingung bersikap menghadapi revolusi pendidikan saat ini. Hal ini yang menjadikan seminar ini sebagai upaya untuk mengarahkan dan mewadahi orangtua dalam memilih pendidikan terbaik untuk anaknya di jenjang selanjutnya,” katanya. (*)

Penulis Masitha Gemilang

Author:

I Am the Admin

Open chat
Assalamu Alaikum, Selamat Datang di Smamda