Arfa Wujudkan Mimpi Jadi Dokter, Bukti Perjuangan dan Doa Tak Pernah Mengkhianati Hasil

SMAMDA.NET – Perjalanan menuju bangku kuliah impian bukanlah hal mudah bagi setiap siswa. Rasa lelah, kecewa, hingga tekanan menghadapi seleksi perguruan tinggi menjadi bagian dari proses panjang yang harus dilalui. Namun, hal itulah yang justru menguatkan langkah Maritza Arfa Wuhan, atau yang akrab disapa Arfa, siswa SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (Smamda) hingga akhirnya berhasil diterima di Kedokteran Universitas Brawijaya (UB) melalui jalur Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) pada Senin, 25 Mei 2026.

Bagi Arfa, memilih jurusan kedokteran bukan sekadar mengejar prestise, tetapi berangkat dari sebuah cita-cita mulia. Ia terinspirasi oleh hadits Nabi Muhammad SAW, “Khoirunnas anfauhum linnas” yang berarti sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama. Prinsip itulah yang membuatnya mantap memilih dunia kedokteran sebagai jalan pengabdian hidupnya.

“Saya merasa kedokteran adalah pilihan yang tepat, apalagi keluarga besar saya juga sangat mendukung,” ungkap Arfa.

Perjalanan Arfa menuju Kedokteran UB tidak selalu berjalan mulus. Pada jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP), ia memilih untuk tidak mengambil UB demi memaksimalkan peluangnya. Namun qadarullah, hasil yang diharapkan belum berpihak padanya. Kegagalan itu sempat membuatnya terpuruk dan kecewa.

“Saya benar-benar sedih karena tidak sesuai ekspektasi. Tapi saya ingat masih ada SNBT. Orang tua dan teman-teman selalu mendukung saya untuk bangkit lagi,” tutur sulung tiga bersaudara ini.

Dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar menjadi bahan bakar semangat Arfa untuk kembali berjuang. Ia pun mulai belajar lebih keras dan memperkuat mental menghadapi Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK). Menurutnya, ada tiga kunci utama menghadapi SNBT: belajar, mental, dan doa.

“Belajar itu wajib karena percuma ikut SNBT tanpa belajar. Lalu mental, karena lawan terbesar saat ujian sebenarnya adalah diri sendiri. Dan yang paling penting adalah doa, karena semua usaha tetap berada dalam kehendak Allah SWT,” kata siswa yang hobby membaca ini.

Arfa akhirnya memilih dua kampus impian dalam SNBT, yakni Kedokteran UB sebagai pilihan pertama dan Kedokteran UIN Malang sebagai pilihan kedua. Usaha panjangnya berbuah manis ketika namanya dinyatakan lolos di pilihan pertama.

Momen pengumuman kelulusan menjadi kenangan yang tidak akan pernah ia lupakan. Saat itu, sepulang dari masjid setelah salat Ashar, Arfa berusaha menenangkan diri dengan berdzikir. Sesampainya di rumah, telepon genggamnya berbunyi menampilkan notifikasi dari guru lesnya yang mengucapkan selamat disertai tangkapan layar hasil pengumuman.

“Jujur saya tidak menyangka diterima. Rasanya bahagia sekali, seperti berada di surga,” kenangnya penuh haru.

Di balik keberhasilannya, Arfa mengaku tantangan terbesar justru datang dari dirinya sendiri. Rasa malas dan lelah kerap menghampiri selama masa persiapan SNBT. Namun ia terus meyakinkan dirinya untuk tetap bertahan demi masa depan yang dicita-citakan.

“Orang tua saya juga sering mengingatkan agar terus berjuang karena ini semua untuk masa depan saya sendiri,” ujarnya.

Keberhasilan Arfa juga membawa kebahagiaan mendalam bagi kedua orang tuanya. Sang mama, Hj. Wulan Niartry, ST., MM., mengaku masih mengingat jelas momen saat Arfa mengabarkan kelulusannya melalui video call ketika mereka sedang berada di kantor.

“Alhamdulillah kami mendapat kabar kelulusan ini. Saya menangis terharu. Man jadda wa jadda itu nyata,” ungkap Wulan.

Menurut Wulan, keberhasilan Arfa merupakan buah dari kerja keras, ketekunan, serta kedisiplinannya selama satu tahun terakhir. Peran keluarga, guru, wali kelas, mentor bimbingan belajar, dan lingkungan sekolah juga menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut.

Sebagai siswa Smamda, Arfa merasa sekolahnya memiliki pengaruh besar dalam membentuk dirinya, baik secara akademik maupun moral. Ia mengaku selalu mendapat arahan, ilmu, serta pengingat untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT dalam setiap keadaan.

“Guru-guru Smamda selalu mengingatkan saya untuk selalu berdoa dan mengingat Allah kapan pun dan di mana pun,” katanya.

Meski telah berhasil meraih impiannya, Arfa tetap rendah hati. Ia menyadari perjalanan menjadi dokter masih sangat panjang dan penuh tantangan. Karena itu, ia terus berusaha memperbaiki diri agar kelak benar-benar bisa menjadi dokter yang bermanfaat bagi masyarakat.

Arfa juga memberikan semangat kepada teman-teman seperjuangannya yang belum berhasil lolos perguruan tinggi impian.

“Jangan pernah menyerah selama masih punya tenaga. Takdir Allah pasti yang terbaik. Tetap berusaha dan terus berdoa. Saya percaya kalian semua pasti bisa,” pesannya.

Arfa kini bersiap menapaki langkah baru sebagai calon dokter masa depan. Sebuah perjalanan yang lahir dari mimpi, diperjuangkan dengan kerja keras, dan dikuatkan oleh doa serta dukungan orang-orang tercinta.

(Hajjar Ekasari)

Author:

I Am the Admin