SMAMDA.NET – SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (Smamda) menggelar kegiatan Baitul Arqam pada Senin-Selasa (23-24/2/2026) dengan menghadirkan semangat pembinaan akhlak dan penguatan spiritual di lingkungan sekolah. Kegiatan ini diikuti seluruh siswa kelas X yang dibagi dalam dua hari pelaksanaan, yakni siswa pada Senin dan siswi pada Selasa.
Mengusung tema Berakhlak, Berdaya, dan Berdampak, Darul Arqam menjadi bagian penting dari proses pembentukan karakter pelajar Muhammadiyah.
Sejak pagi, rangkaian acara diawali dengan salat dhuha berjemaah yang berlangsung khusyuk. Suasana religius yang tercipta menjadi fondasi kuat untuk mengikuti agenda berikutnya. Kegiatan kemudian dibuka secara resmi oleh ketua panitia dan kepala sekolah.
Ketua panitia Didit Rowandi SPd berharap Baitul Arqam tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi benar-benar membekas dalam diri peserta.
“Tema Baitul Arqam tahun ini adalah Berakhlak, Berdaya, dan Berdampak. Akhlak adalah fondasi, daya adalah kekuatan, dan dampak adalah kontribusi nyata bagi umat dan bangsa,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala SMA Muhammadiyah 2 Surabaya Mukhlasin ST MPd menegaskan bahwa Baitul Arqam merupakan bagian dari proses kaderisasi di lingkungan sekolah.
“Baitul Arqam bukan hanya agenda tahunan, tetapi momentum pembentukan karakter. Kami ingin siswa dan siswi tidak hanya paham teori, tetapi mampu mempraktikkan nilai akhlak dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Agenda dilanjutkan dengan penilaian praktik wudhu dan salat oleh para penguji. Setiap peserta diuji ketepatan gerakan, bacaan, serta pemahaman rukun dan syarat sah ibadah. Kegiatan ini menjadi sarana evaluasi sekaligus pembinaan agar ibadah yang dilakukan semakin berkualitas.
Memasuki waktu dhuhur, seluruh peserta melaksanakan salat berjemaah dan tadarus Al-Qur’an. Lantunan ayat suci yang menggema menghadirkan suasana syahdu sekaligus mempererat ukhuwah antarpeserta.
Materi pertama tentang wudhu dan salat disampaikan oleh Sulaiman MA pada hari pertama kepada siswa, dan Luklu’ul I SPdI pada hari kedua kepada siswi. Para pemateri menekankan pentingnya menjaga kualitas ibadah sebagai cerminan kualitas keimanan.
Sulaiman menegaskan bahwa wudhu, salat, dan taharah bukan hanya ibadah yang dilakukan di masjid atau rumah, melainkan harus tercermin dalam sikap di sekolah, tempat kerja, dan tengah masyarakat. Jika dijalankan dengan benar dan penuh kesadaran, ketiganya akan melahirkan pribadi yang bersih, disiplin, jujur, dan berakhlak mulia.
Sementara itu, Luklu’ul I menjelaskan bahwa iman, wudhu, dan salat merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Iman menjadi keyakinan kepada Allah yang kemudian dibuktikan melalui pelaksanaan ibadah secara benar dan konsisten.
Setelah sesi materi, kegiatan dilanjutkan dengan salat asar berjemaah dan tadarus bersama. Materi berikutnya tentang tauhid disampaikan Alif Jatmiko MThI. Ia menekankan bahwa tauhid menjadi fondasi ketenangan jiwa, termasuk dalam menghadapi kecemasan dan overthinking yang kerap dialami remaja.
Menurutnya, tauhid bukan sekadar materi pelajaran, melainkan arah hidup yang harus dipegang. Ketika seseorang mengenal Allah dengan benar, ia tidak lagi sibuk mencari pengakuan manusia, melainkan menjadi lebih tenang, yakin, dan memahami tujuan hidupnya.
Materi tersebut diperdalam melalui diskusi dan debat kelompok dengan tema “Overthinking berlebihan menunjukkan lemahnya iman terhadap takdir Allah.” Diskusi berlangsung aktif dan penuh antusias. Setiap kelompok menyampaikan argumentasi berbasis dalil serta pemikiran kritis.
Menjelang berbuka, peserta menikmati kebersamaan dalam suasana hangat dan penuh rasa syukur. Rangkaian ibadah dilanjutkan dengan salat maghrib, isya, dan tarawih berjemaah yang semakin mempererat ukhuwah.
Sebagai penutup, panitia mengadakan sesi apresiasi dengan memberikan penghargaan kepada siswa dan siswi terbaik, serta kelompok terbaik dan teraktif selama kegiatan berlangsung. Tepuk tangan meriah mengiringi momen tersebut.
Salah satu peserta, Mishal Akbar dari kelompok 12, mengungkapkan kesannya setelah mengikuti kegiatan ini. Ia menilai Baitul Arqam tahun ini berlangsung seru dan menyenangkan karena peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga dituntut aktif berdiskusi dan berdebat.
“Saya memperoleh banyak ilmu yang bermanfaat dari kegiatan ini,” katanya.
Senada dengan itu, Zhafirah Cinta dari kelompok 4 yang mengikuti kegiatan pada hari kedua menyebut Baitul Arqam sebagai pengalaman baru yang berkesan, terutama karena menjadi Ramadan pertamanya di Smamda. Ia merasakan manfaat dari evaluasi bacaan dan gerakan salat, sekaligus mendapatkan pemahaman lebih dalam tentang tauhid.
“Semoga ke depan sesi diskusi dan debat dapat diperpanjang agar kegiatan semakin interaktif dan tetap edukatif,” harap Cinta.
Melalui Baitul Arqam bertema Berakhlak, Berdaya, dan Berdampak ini, SMA Muhammadiyah 2 Surabaya berharap lahir generasi pelajar yang kokoh dalam akidah, santun dalam akhlak, unggul dalam prestasi, serta siap memberi dampak positif bagi masyarakat.

