
SMAMDA.NET – Kisah inspiratif datang dari salah satu siswi berprestasi SMA Muhammadiyah 2 (SMAMDA) Surabaya. Candra Dewi K., siswi kelas 10.9, berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan meraih Juara 1 dalam perlombaan Kikitori (menyimak bahasa Jepang) pada kompetisi bahasa dan budaya Jepang “MOON” yang diselenggarakan di Universitas dr. Soetomo (Unitomo).
Kemenangan ini terasa begitu dramatis sekaligus membanggakan. Pasalnya, tepat pada pagi hari sebelum kompetisi dimulai, Candra sempat diserang demam tinggi yang hampir membuatnya mengurungkan niat untuk berkompetisi. Namun, berbekal tekad kuat, ia tetap memaksakan diri berangkat ke lokasi lomba demi membawa nama baik sekolah.
Saat pengumuman juara dibacakan, Candra mengaku benar-benar terkejut dan tidak memercayai telinganya sendiri. Rasa kurang percaya diri sempat menghantuinya karena ia merasa persiapannya kurang maksimal akibat kondisi fisik yang mendadak turun.
“Jujur saya kaget karena kurang percaya diri dengan hasil lomba saya. Dari awal ekspektasi saya paling mentok Juara 3 atau bahkan tidak menang sama sekali. Dulu waktu ikut lomba bahasa Inggris saya tidak pernah menang. Alhamdulillah, perjuangan berangkat dalam kondisi lemas ternyata tidak sia-sia,” ungkap Candra dengan penuh rasa syukur.
Begitu turun dari panggung kehormatan sambil membawa trofi emas dan sertifikat juara, Candra langsung membagikan kabar bahagia ini melalui grup pesan singkat. Orang-orang pertama yang ia kabari adalah guru pembimbing (Sensei) serta teman-teman satu ekstrakurikuler di Japan Club Community (JCC) SMAMDA.
Sontak kabar tersebut disambut dengan histeria kebahagiaan dan rasa tidak percaya. Maklum saja, divisi komunitas Jepang mereka tergolong jarang membawa pulang piala dalam beberapa kompetisi terakhir. Kemenangan Candra ini seolah menjadi oase yang membangkitkan kembali semangat berprestasi rekan-rekan satu eskulnya.
Lomba Kikitori sendiri terkenal memiliki tingkat kesulitan yang tinggi karena menuntut fokus penuh dalam menyimak ujaran lisan berbahasa Jepang secara cepat dan tepat tanpa teks. Ketika ditanya mengenai rahasia latihannya, Candra membeberkan metode unik yang dilakukannya sehari-hari secara autodidak.
Sebagai pencinta kebudayaan Jepang, Candra memanfaatkan hobi mendengarkan musik sebagai sarana belajar utama. Ia sangat menggemari lagu-lagu bergenre J-Pop hingga mampu menghafal lirik-liriknya dengan fasih. Tidak hanya itu, ia juga memanfaatkan algoritma media sosial dengan sengaja menonton video-video konten kreator asli Jepang tanpa bantuan takarir (subtitle) maupun terjemahan otomatis demi melatih kepekaan indra pendengarannya.
Meskipun demikian, masa persiapan formalnya bersama Sensei di sekolah tidaklah berjalan mulus. Dari target tiga minggu pembinaan intensif yang mengambil jam pelajaran sekolah, Candra hanya bisa efektif mengikutinya di minggu pertama saja. Memasuki minggu kedua, ia harus terbaring sakit selama tiga hari, disusul dengan demam tepat di hari pelaksanaan lomba.
Mental juara Candra ternyata ditempa dari rentetan kegagalan di masa lalu. Sebelum menekuni kompetisi bahasa Jepang, ia kerap mengikuti lomba bahasa Inggris namun belum pernah sekalipun berhasil membawa pulang piala. Kegagalan tersebut sempat membuatnya merasa kemampuan diri berada jauh di belakang peserta lain.
Namun, pola pikirnya berubah seiring berjalannya waktu. Candra belajar untuk berdamai dengan kekalahan dan menjadikannya sebagai bahan evaluasi diri. Baginya, jika satu pintu kompetisi tertutup, masih banyak pintu kompetisi lain yang bisa dicoba.
Ketertarikannya pada bahasa Jepang sendiri mulai diseriusi sejak duduk di bangku kelas 8 SMP ketika melihat seorang temannya mahir menulis aksara Jepang. Terinspirasi dari hal itu, ia mulai belajar menulis Hiragana dan Katakana secara mandiri hingga akhirnya memutuskan totalitas bergabung dengan eskul JCC saat masuk ke SMAMDA.
Prestasi di Unitomo ini tidak membuat Candra berpuas diri. Bulan Juni ini, ia bersama rekan-rekannya tengah bersiap menghadapi tantangan berikutnya, yaitu perlombaan Nihon Quiz (Cerdas Cermat Jepang) yang akan diselenggarakan di Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya.
“Mohon doanya dari teman-teman dan guru semua agar saya dan tim bisa kembali meraih juara,” pintanya.
Candra memberikan pesan yang sangat mendalam untuk seluruh teman-teman sesama siswa di sekolah agar tidak takut dalam mencoba hal-hal baru.
“Good results don’t always appear instantly. Your journey matters too, and it doesn’t matter how long or how short, as long as you put efforts to it. And no matter how many people underestimate you, use their mockery as motivations to prove them wrong, to prove that you’re capable of this.”
Author: Dhea Rachma Safitri


Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.