Cleo Lolos Ilmu Komunikasi Unair, Perjalanan dari Keraguan Menuju Kampus Impian

SMAMDA.NET – Tidak semua perjalanan menuju kampus impian dimulai dengan rasa percaya diri. Ada kalanya seseorang berjalan di tengah keraguan, merasa tertinggal, bahkan sudah pasrah sebelum hasil diumumkan. Namun, justru dari proses itulah Arganta Cleo Indra Kusuma, atau yang akrab disapa Cleo, siswa SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (Smamda) membuktikan bahwa kerja keras, doa, dan kesabaran mampu membawa seseorang menuju hasil terbaik.

Cleo berhasil diterima di Program Studi Ilmu Komunikasi (Ilkom) Universitas Airlangga (Unair) melalui jalur Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) pada Senin, 25 Mei 2026. Sebuah pencapaian yang awalnya bahkan sulit ia bayangkan sendiri.

Ketertarikan Cleo terhadap dunia komunikasi ternyata lahir dari pengalaman pribadinya selama bersekolah di Smamda. Ia mengaku sering mengalami kesalahan komunikasi, baik dalam kerja tim maupun dalam memilih kata saat berbicara. Dari situlah ia mulai menyadari betapa pentingnya kemampuan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.

“Selama di Smamda saya sering melakukan kesalahan komunikasi, entah miskom, salah memilih kata, atau kurang komunikasi dengan tim. Dari situ saya merasa ternyata komunikasi itu penting sekali,” ungkapnya.

Sejak awal, Cleo memang sudah menargetkan Ilkom Unair sebagai jurusan impian. Namun saat jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP), ia memilih Sains Komunikasi Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) karena mempertimbangkan mata pelajaran penunjang yang tidak sesuai untuk mendaftar Ilkom Unair.

Meski demikian, ia tetap mencoba menaruh Ilmu Komunikasi Unair sebagai pilihan utama di jalur SNBT. Hanya saja, Cleo mengaku dirinya tidak pernah benar-benar yakin bisa lolos. Hasil tryout yang kerap berada di bawah passing grade membuatnya merasa peluang itu nyaris mustahil.

“Dari awal saya merasa Ilkom Unair itu mustahil karena nilai tryout saya tidak pernah sampai passing grade yang beredar di internet,” katanya.

Kegagalan di jalur SNBP sempat membuat Cleo terpuruk. Namun, dukungan dari orang-orang terdekat dan teman seperjuangannya membuatnya kembali bangkit.

“Mereka selalu nge-push saya buat bangkit dan tidak menyerah. Jadi saya tetap semangat belajar meskipun sempat down beberapa kali,” ujar sulung dua bersaudara ini.

Dalam menghadapi Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK), Cleo menjalani persiapan yang cukup intensif. Saat libur semester kelas 12 pada bulan Desember, ia memilih mengikuti program belajar selama 10 hari di bimbingan belajar (bimbel) daripada berlibur. Program tersebut membantunya memahami sekitar setengah dari keseluruhan materi UTBK.

Setelah pengumuman SNBP, ia kembali mengambil kelas intensif selama 20 hari untuk memaksimalkan persiapannya. Selain rutin mengerjakan latihan soal dan tryout, Cleo juga mencoba berbagai platform latihan lain agar dapat mengevaluasi kemampuan secara lebih luas.

Namun menurutnya, persiapan terpenting dalam menghadapi UTBK bukan hanya soal akademik, melainkan mental.

“Meskipun sedih dan putus asa karena SNBP merah, tetap harus berjuang sampai hari-H pelaksanaan UTBK. Karena tidak ada yang tahu hasil akhirnya seperti apa,” tuturnya.

Di balik perjuangan itu, ada doa seorang ibu yang terus mengiringi langkahnya. Sang mama, Ririn Wahyuni, mengaku melakukan banyak ikhtiar batin demi kelancaran UTBK putranya. Bahkan sebelum hari ujian, ia rutin berwirid hingga seratus kali dan tak pernah meninggalkan salat tahajud.

Cleo masih mengingat bagaimana dirinya pulang setelah UTBK dengan wajah penuh keraguan.

“Saya bilang ke mama, ‘Ma susah ma, mandiri aja wes.’ Tapi alhamdulillah, mama saya tahajud tiap hari. Jalur langit mama tembus,” kenangnya haru.

Saat mengikuti UTBK, Cleo justru merasa tantangan terbesarnya adalah menjaga rasa percaya diri. Ia menyadari banyak peserta yang langsung kehilangan semangat ketika merasa gagal di subtes awal, padahal masih ada kesempatan memperbaiki nilai di bagian berikutnya.

“Kalau merasa gagal di satu subtes, jangan menyerah di subtes lain. Bisa jadi justru subtes berikutnya yang menyelamatkan nilai kita,” jelasnya.

Di jalur SNBT, Cleo memilih tiga program studi, yaitu Ilkom Unair, Sains Komunikasi ITS, dan D4 Statistika Bisnis ITS.

Menariknya, menjelang pengumuman SNBT, Cleo justru merasa tidak terlalu gugup. Ia bahkan mengaku sudah pasrah dan merasa kemungkinan besar akan gagal lagi karena banyak soal UTBK yang tidak ia yakini jawabannya.

“Yang deg-degan justru mama saya,” katanya sambil tertawa.

Momen pengumuman itu menjadi salah satu kenangan paling emosional dalam hidupnya. Saat membuka hasil bersama kedua orang tuanya, Cleo langsung melihat QR code tanda kelulusan dan spontan sujud syukur tanpa sempat membaca jurusan yang diterima.

“Setelah saya cek ternyata Ilkom Unair, saya langsung nangis dan meluk mama karena benar-benar tidak menyangka,” kenangnya haru.

Bagi Cleo, seluruh proses yang ia lalui membuatnya semakin yakin bahwa Allah SWT selalu memberikan takdir terbaik bagi hamba-Nya. Penolakan yang dialami sebelumnya justru menjadi bagian dari proses menuju hasil yang lebih baik.

“Allah itu Maha Tahu apa yang terbaik untuk kita. Jangan pernah suudzon kepada Allah karena Allah punya cara sendiri dalam menguji hambanya,” pesannya.

Cleo juga berpesan kepada teman-teman seperjuangannya untuk tidak menyerah hanya karena mengalami kegagalan.

“Allah tidak mengambil sesuatu dari hambanya kecuali akan diganti dengan yang lebih baik,” tambahnya.

Keberhasilan Cleo tentu tidak lepas dari dukungan keluarga, guru, dan lingkungan sekitar. Ia mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tuanya yang selalu mendukung penuh perjuangannya, baik secara moral maupun finansial. Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada para tentor bimbel, teman-teman, serta guru-guru Smamda yang terus memberikan dukungan ilmu dan spiritual.

Menurut Cleo, Smamda memiliki pengaruh besar dalam membentuk karakter dan cara pandangnya terhadap masa depan. Nasihat para guru tentang kehidupan kampus dan pentingnya menjaga nilai-nilai agama menjadi bekal penting baginya untuk memasuki dunia perkuliahan.

“Guru-guru selalu mengingatkan kalau kehidupan kampus akan berbeda. Saya berharap nanti tetap bisa memegang nilai-nilai yang diajarkan selama di Smamda,” ujar siswa yang hobby belajar ini.

Sang mama, Ririn Wahyuni, juga mengungkapkan rasa haru dan syukurnya atas keberhasilan sang putra.

“Awalnya kami tidak yakin bisa lolos, tapi alhamdulillah Allah memberikan takdir terbaik,” tutur Ririn.

Ririn juga menyampaikan terima kasih kepada guru-guru Smamda, wali kelas, guru BK, dan para tentor bimbel yang telah membantu membimbing Cleo selama proses menentukan jurusan hingga lolos SNBT.

Kini, langkah baru telah dimulai bagi Cleo di kampus impiannya. Dari seorang siswa yang sempat merasa mustahil untuk lolos, kini ia membuktikan bahwa usaha, doa, dan kesabaran dapat membawa seseorang melampaui batas yang pernah ia ragukan sendiri.

(Hajjar Ekasari)

Author:

I Am the Admin