Dokter Tjatur di Tarhib Ramadan Smamda: Jika Dipahami dengan Benar, Puasa Bermanfaat untuk Kesehatan

SMAMDA.NET – Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan 1447 H, SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (Smamda) menggelar kegiatan Tarhib Ramadan pada Kamis (12/2/2026). Kegiatan bertema Heartbeat of Ramadan yang diikuti seluruh warga sekolah ini berlangsung tertib dan khidmat

Wakil kepala sekolah, Alif Jatmiko, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Ramadan merupakan momentum penting bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas diri, baik dari sisi spiritual maupun kesehatan. Ia mengajak seluruh peserta didik memanfaatkan bulan suci sebagai sarana pembinaan karakter dan penguatan keimanan.

Untuk memperkaya wawasan siswa dari perspektif medis, Smamda menghadirkan dr Tjatur Prijambodo MKes, Kepala Unit Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya. Dalam paparannya, dr Tjatur menekankan pentingnya menjadikan Ramadan sebagai proses pembentukan pribadi yang bertakwa.

“Jadilah pribadi yang bertakwa dengan meningkatkan kualitas diri, menjaga kesehatan fisik, serta memperkuat keimanan,” ujarnya.

Dokter Tjatur menjelaskan bahwa ibadah puasa memiliki konsep sistematis yang dapat dipahami melalui pendekatan input–proses–output. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan proses pembentukan ketakwaan yang terstruktur. Hal ini selaras dengan firman Allah Swt. dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 tentang tujuan utama puasa, yakni mencapai derajat takwa.

Menurutnya, pelaksanaan puasa yang dipahami dengan benar tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga memberi manfaat kesehatan. Puasa selama 29–30 hari menjadi kesempatan bagi tubuh untuk melakukan perbaikan dan pemulihan secara menyeluruh.

“Ketika seseorang memahami bahwa puasa adalah kebutuhan, maka ia akan lebih mudah menangkap hikmah di baliknya. Puasa bukan sekadar kewajiban, melainkan kebutuhan hidup,” jelasnya.

Autofagi dan Sistem Imun

Dalam sesi tanya jawab, siswa menunjukkan antusiasme tinggi dengan mengajukan pertanyaan seputar manfaat puasa dari sisi medis. Dokter Tjatur menjelaskan bahwa praktik puasa telah banyak diteliti secara ilmiah, salah satunya terkait mekanisme autophagy (autofagi) yang dipopulerkan oleh Profesor Yoshinori Ohsumi.

Autofagi merupakan proses alami di dalam tubuh, di mana sel-sel sehat menghancurkan dan mendaur ulang sel-sel yang rusak. Mekanisme ini memicu regenerasi sel baru yang lebih sehat dan berkontribusi terhadap peningkatan fungsi tubuh secara keseluruhan.

Ia juga memaparkan peran Natural Killer (NK) cell, yaitu sel imun yang berfungsi membunuh sel-sel rusak atau berbahaya. Puasa, menurutnya, membantu meningkatkan efektivitas kerja sistem imun sehingga tubuh lebih selektif dalam menjaga keseimbangan dan kesehatan.

Menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan puasa menyembuhkan penyakit seperti tuberkulosis (TBC), dr Tjatur menegaskan bahwa puasa tidak dapat secara langsung menyembuhkan penyakit tersebut.

“Penyakit seperti TBC tetap memerlukan pengobatan medis yang tepat dan teratur. Puasa berperan sebagai pelengkap yang membantu memperbaiki kondisi tubuh secara umum,” tegasnya.

Melalui kegiatan Tarhib Ramadan ini, Smamda berharap para siswa memahami bahwa ibadah puasa tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga membawa manfaat kesehatan. Dengan pemahaman yang komprehensif, Ramadan diharapkan menjadi momentum pembentukan pribadi yang lebih sehat, kuat, dan bertakwa.

Author:

I Am the Admin