Empat Siswi Smamda Sabet Medali Emas Nasional berkat Inovasi Pengolahan Limbah Dapur

SMAMDA.NET — Berawal dari keprihatinan terhadap tumpukan sampah dapur yang kian menggunung di wilayah perkotaan, empat siswi SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (Smamda) berhasil mengubah limbah menjadi prestasi membanggakan di tingkat nasional. Melalui ajang National Applied Science Project Olympiad (NASPO), tim ini sukses meraih Gold Medal pada kategori Waste Treatment.

Keempat siswi tersebut adalah Rania Fadya Salsabila dan Neva Kamilah Altamis dari kelas XI.7, serta Nesha Fakhriyah Altamis dan Amira Indira Putri Fathurrahma dari kelas XI.8. Mereka berkolaborasi dalam karya tulis ilmiah berjudul Optimalisasi Eco-Enzyme sebagai Agen Biokonversi Ramah Lingkungan. Karya ini dinilai unggul karena mengangkat permasalahan nyata di lingkungan sekitar dengan solusi yang aplikatif dan berkelanjutan.

Penelitian ini berangkat dari keprihatinan terhadap meningkatnya limbah organik rumah tangga yang belum terkelola secara optimal dan berpotensi mencemari lingkungan. Melalui pendekatan biokonversi, tim memanfaatkan eco-enzyme untuk mengolah sampah dapur menjadi produk serbaguna yang ramah lingkungan.

Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak hanya berfokus pada pengurangan limbah, tetapi juga menciptakan manfaat baru yang berkelanjutan.

Perjalanan menuju prestasi ini tidaklah mudah. Proses pembuatan eco-enzyme membutuhkan waktu fermentasi yang cukup panjang, sekitar tiga bulan. Bahkan, beberapa percobaan awal belum menunjukkan hasil maksimal. Tantangan tersebut justru melatih kesabaran, ketelitian, serta konsistensi tim dalam melakukan penelitian ilmiah.

Secara keseluruhan, persiapan lomba dilakukan selama tiga hingga empat bulan. Dimulai dari proses pembuatan eco-enzyme, pengamatan dan evaluasi hasil, hingga penyusunan karya tulis ilmiah secara sistematis sesuai kaidah penelitian. Seluruh rangkaian lomba dilaksanakan secara daring.

Guru pembimbing, Eka Haris Prastiwi, menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya atas kerja keras para siswi.

“Prestasi ini lahir dari proses panjang dan penuh pembelajaran. Anak-anak belajar bahwa riset membutuhkan ketekunan, keberanian mencoba, dan kesiapan menghadapi kegagalan. Lebih dari sekadar medali, pengalaman ini membentuk karakter dan kepedulian terhadap lingkungan,” tuturnya.

Dukungan penuh juga datang dari orang tua siswa. Hajjar Ekasari, orang tua dari Nesha dan Neva, menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas capaian putrinya.

“Sejak awal saya hanya bisa menguatkan dengan ucapan ‘Bismillah, semoga meraih hasil terbaik di NASPO.’ Alhamdulillah, Allah mengabulkan doa tersebut dengan pencapaian Gold Medal. Dari pengalaman ini, saya semakin yakin bahwa setiap ucapan adalah doa, sehingga sudah sepatutnya kita membiasakan diri bertutur kata yang baik dan penuh harapan,” ungkapnya.

Bagi para siswi, ajang NASPO menjadi pengalaman berharga yang membuka wawasan tentang dunia riset ilmiah dan inovasi lingkungan. Mereka berharap prestasi ini dapat memotivasi siswa lain untuk berani berkarya dan tidak takut mencoba hal baru.

Sebagai pesan, tim menegaskan bahwa kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil. Penelitian membutuhkan konsistensi, keberanian untuk mencoba, serta kesiapan menerima kegagalan. Kegagalan bukanlah akhir, melainkan pengalaman berharga dan pijakan menuju kesuksesan di masa depan.

Prestasi ini sekaligus menegaskan komitmen SMA Muhammadiyah 2 Surabaya dalam menumbuhkan budaya riset, inovasi, dan kepedulian lingkungan di kalangan siswa, guna mencetak generasi muda yang berilmu, berkarakter, dan berdaya saing nasional.

Author:

I Am the Admin