SMAMDA.NET – Lantai 4 Gedung SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Surabaya mendadak riuh oleh aroma gurih dan gelak tawa pada Jumat (9/1/2026). Kegiatan tersebut menandai pembinaan keputrian perdana semester genap yang digelar secara kolaboratif oleh sekolah bersama Ibu-ibu Komite Bidang Pengembangan Potensi Siswa.
Ada yang istimewa dalam kegiatan kali ini. Di tengah barisan siswi kelas X, hadir Anushka Kumar, exchange participant AIESEC asal Melbourne, Australia. Anushka yang juga seorang guru dijadwalkan tinggal dan berkegiatan di Smamda selama enam minggu. Selama program berlangsung, ia akan berbagi tentang budaya Australia sekaligus mengajar mata pelajaran Biologi.
Hari pertama Anushka di Smamda langsung diwarnai pengalaman budaya yang unik. Ia tidak hanya mengikuti kegiatan secara formal, tetapi juga terjun langsung dalam pembinaan keputrian berupa praktik memasak kuliner tradisional Indonesia, tempe mendoan.
“Wow, this is such a lively atmosphere. I’ve never seen a cooking class quite like this in a school before. It smells amazing,” ujar Anushka dengan antusias saat menyaksikan para siswi menyiapkan bahan masakan.
Rasa penasaran Anushka semakin terlihat ketika tempe mendoan hangat diangkat dari wajan. Ia pun bertanya tentang cara terbaik menikmati kudapan khas Banyumas tersebut.
“It looks delicious, but I’m curious—how do you usually serve this? What is the best way to enjoy this snack?” tanyanya.
Salah satu Ibu Komite menjawab dengan ramah, bahwa tempe mendoan paling nikmat disantap selagi hangat dan ditemani secangkir kopi atau minuman hangat.

Mengenalkan Kuliner Tradisional kepada Gen Z
Di sisi lain, para siswi kelas X tampak antusias menunjukkan kebolehan mereka di hadapan tamu mancanegara. Mereka sibuk menakar tepung dan mengaduk adonan hingga mendapatkan kekentalan yang pas. Bagi Nadia, siswi kelas X-11, kegiatan ini menjadi pengalaman pertamanya memasak tempe mendoan secara mandiri.
Perwakilan Komite Bidang Pengembangan Potensi Siswa, Reny, menjelaskan bahwa pemilihan menu “makanan jadul” bertujuan agar para siswi tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga pelestari kuliner lokal.
“Kami ingin di awal semester genap ini anak-anak memiliki semangat baru sekaligus keterampilan praktis yang bermanfaat,” ujarnya.
Ia juga membagikan tips sederhana, yakni mengaduk adonan menggunakan punggung sendok agar lebih cepat merata dan tidak menggumpal.
Kegiatan pembinaan yang berlangsung cair dan penuh keakraban tersebut ditutup dengan diskusi agenda pekan berikutnya. Ketika diberikan pilihan antara memasak kembali atau membuat kerajinan tangan, para siswi secara kompak memilih membuat ikat rambut scrunchie.
Kehadiran Anushka Kumar melalui program AIESEC tidak hanya menghadirkan wawasan global bagi siswi Smamda, tetapi juga menunjukkan bahwa pertukaran budaya paling efektif dapat dimulai dari kehangatan dapur sekolah dan makanan tradisional.


Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.