Kajian Iktikaf Smamda, Dr Nyong Eka Ingatkan Peran Guru sebagai Pendidik dan Pembimbing

SMAMDA.NET – Dalam suasana penuh keberkahan bulan Ramadan, SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Surabaya menggelar kajian iktikaf sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Marhaban Ya Ramadan 1447 H.

Kegiatan yang berlangsung di Masjid Nurul Ilmi pada Jumat (13/3/2026) ini menghadirkan Dr Nyong Eka Teguh Iman Santoso MFilI dengan tema Mengelola Pikiran Menjadi Pribadi yang Bijak. Kajian tersebut diikuti oleh para guru dan karyawan Smamda.

Kajian ini menjadi pembuka dari rangkaian kegiatan iktikaf yang diselenggarakan Smamda selama bulan Ramadan. Para guru dan civitas akademika mengikuti kegiatan tersebut dengan penuh antusias sebagai bentuk penguatan spiritual sekaligus refleksi diri di bulan suci.

Kepala SMA Muhammadiyah 2 Surabaya H Mukhlasin ST MPd dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelaksanaan iktikaf tahun ini memiliki konsep yang sedikit berbeda. Menurut dia, kegiatan tidak dilaksanakan pada malam hari dan tidak mengharuskan peserta menginap di masjid sekolah.

“Pada kesempatan kali ini iktikaf tidak dilaksanakan pada malam hari dan tidak menginap. Bapak dan Ibu guru serta karyawan dapat melanjutkan iktikaf di masjid di lingkungan rumah masing-masing, sehingga waktu beriktikaf bisa lebih panjang dan fleksibel,” ujarnya.

Dalam kajiannya, Ustadz Nyong Eka Teguh Iman Santoso menyoroti hubungan antara wahyu pertama dalam Islam, yakni Surah Al-Alaq dengan kata pembuka Iqra’ (bacalah), dengan profesi guru. Ia menegaskan bahwa profesi guru memiliki kedudukan yang sangat mulia karena berkaitan langsung dengan proses membaca, belajar, dan mengajarkan ilmu.

Menurutnya, seorang guru telah dijanjikan derajat yang tinggi oleh Allah SWT karena perannya dalam menyebarkan ilmu dan membimbing generasi penerus. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai orang tua bagi para murid di lingkungan sekolah.

“Setiap guru pada hakikatnya adalah orang tua bagi murid-muridnya. Tugas guru bukan sekadar mengajar, tetapi juga mendidik, membimbing, menanamkan nilai-nilai kebaikan, serta mendoakan murid-muridnya seperti mendoakan anaknya sendiri,” jelasnya.

Dia juga mengingatkan bahwa dalam menjalankan profesi sebagai pendidik, seorang guru perlu menanamkan nilai sabar, syukur, ridha, dan ikhlas. Menurutnya, menjadi guru adalah sebuah pilihan hidup yang mengandung amanah besar.

“Amanah tersebut kelak harus dipertanggungjawabkan, baik kepada manusia maupun kepada Allah SWT,” paparnya.

Dia menambahkan, profesi guru merupakan ladang amal yang penuh keberkahan. Ilmu yang diajarkan kepada murid akan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir, bahkan ketika seorang guru telah tiada. Selain itu, guru juga akan mendapatkan penghormatan dan doa dari para murid yang pernah dibimbingnya.

Kajian iktikaf ini diharapkan menjadi momentum bagi para guru Smamda untuk semakin memaknai profesinya sebagai bentuk ibadah dan pengabdian. Melalui pengelolaan pikiran yang bijak dan niat yang tulus, para pendidik diharapkan mampu terus memberikan inspirasi dan teladan bagi generasi muda.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian program spiritual Ramadan di Smamda yang bertujuan memperkuat nilai keimanan, kebersamaan, serta semangat menebar kebaikan di lingkungan sekolah.

Author:

I Am the Admin