SMAMDA.NET – Suasana kelas XI-4 SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Surabaya mendadak berubah syahdu pada Senin pagi (2/2/2026). Tak ada riuh candaan remaja seperti biasanya. Yang terdengar justru helaan napas panjang dan isak tangis tertahan yang perlahan berganti kelegaan.
Melalui program Orang Tua Mengajar (OTM), hadir Laila Nurul Rahmawati SKM. Ia tidak datang sekadar sebagai narasumber, melainkan sebagai sosok “ibu” bagi para siswa, membawa pesan sederhana namun bermakna: belajar melepas emosi dengan sehat.
Dalam sesi bertajuk Self Awareness, Laila menyentuh sisi paling rapuh remaja: kelelahan mental. Sebuah kalimat yang pernah ia tulis di media sosial menjadi pembuka diskusi, “Nahan emosi itu capeknya melebihi lari maraton.”
Kalimat itu seakan membuka pintu hati para siswa. Melalui paparan materi tentang kesadaran diri, Laila menjelaskan bahwa siswa dengan citra diri positif akan lebih berani menentukan arah masa depan.
“Sebaliknya, kecemasan dan keraguan terhadap diri sendiri dapat membuat seseorang mudah goyah,” jelasnya.
Dengan pendekatan lembut, ia membagikan tiga cara mengelola stres menurut metode Lazarus dan Folkman yang dipadukan dengan nilai spiritual.
Yakni, fokus pada masalah dengan menyelesaikan hal yang bisa dikendalikan, fokus pada emosi dengan menerima dan melepaskan perasaan yang terpendam, serta fokus spiritual dengan menyerahkan beban yang tak sanggup dipikul kepada Sang Pencipta.
Momen paling menyentuh terjadi saat para siswa diajak mengenali emosi mereka sendiri. Di balik keceriaan yang tampak sehari-hari, tersimpan kegelisahan tentang masa depan, ekspektasi orang tua, hingga pilihan jurusan.
“Pernahkah bangun tidur tapi rasanya sudah kelelahan?” tanya Laila.
Pertanyaan itu dijawab dengan air mata oleh beberapa siswa. Di ruang kelas itu, untuk pertama kalinya mereka merasa didengar dan divalidasi. Mereka belajar bahwa menangis bukan tanda kelemahan, melainkan langkah awal menuju kesehatan mental yang lebih baik.
Program OTM kali ini bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan juga transfer kasih sayang. Laila berhasil mengubah ruang kelas menjadi ruang aman, tempat siswa bisa jujur pada diri sendiri tanpa rasa takut.
Menjelang akhir sesi, siswa kelas XI-4 tidak hanya membawa catatan pelajaran, tetapi juga membawa kunci untuk membuka kegelisahan yang selama ini membelenggu. Mereka pulang dengan langkah lebih ringan, menyadari bahwa di tengah tuntutan dunia yang kian keras, kesehatan mental adalah pondasi utama untuk meraih masa depan.

