SMAMDA.NET – Suasana berbeda terlihat di Masjid Nurul Ilmi SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Surabaya pada Senin (9/3/2026). Layar putih dibentangkan, lampu perlahan diredupkan, dan gema audio memenuhi setiap sudut ruangan. Sejenak, masjid sekolah ini bertransformasi menjadi bioskop religi bagi para siswa.
Kegiatan yang berlangsung bakda Asar hingga menjelang berbuka puasa ini diikuti siswa kelas XII yang menyimak pemutaran film legendaris Sang Pencerah. Agenda tersebut menghadirkan Ustadz M Sjamsu Hudaja SAg, guru Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), sebagai pembicara untuk membedah nilai-nilai perjuangan dalam film tersebut.
Diskusi berlangsung hangat ketika para siswa mulai mengaitkan adegan film dengan teori sosial. Alfi Rofidah, siswi kelas XII.13, menyoroti beratnya perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam melakukan perubahan sosial di tengah masyarakat.
Dia menjelaskan bahwa masyarakat sering kali sulit berubah ketika sudah berada pada kondisi yang dianggap nyaman. Hal itu juga disampaikan oleh Ustadz Sjamsu dalam sesi bedah film melalui istilah “PW” atau posisi wenak.
Menurut Alfi, melalui teori perubahan sosial dapat dilihat bahwa masyarakat cenderung menolak hal baru jika struktur lama sudah dianggap nyaman. Perubahan arah kiblat yang semula lurus ke barat menjadi presisi menghadap Ka’bah, misalnya, bukanlah perkara mudah karena harus berhadapan dengan ego kelompok.
“Dari situ kita bisa melihat betapa luar biasanya kegigihan KH Ahmad Dahlan,” ungkapnya.
Senada dengan Alfi, Aurell dari kelas XII.5 mengungkapkan kekagumannya terhadap semangat tajdid atau pembaruan yang menjadi ciri khas Muhammadiyah. Ia menyoroti inovasi pendidikan yang dibawa KH Ahmad Dahlan, seperti penggunaan papan tulis, meja, dan kursi di ruang kelas.
Pada masa itu, metode tersebut sempat dicap sebagai sesuatu yang meniru gaya Belanda dan bahkan dianggap menyimpang. Namun bagi Aurell, pembaruan selalu membutuhkan keberanian mental yang besar.
Jika dahulu KH Ahmad Dahlan dihujat karena menggunakan sistem kelas modern, kini hasil dari keberanian tersebut justru dinikmati oleh generasi penerus dalam dunia pendidikan.
Diskusi tersebut juga menumbuhkan kesadaran bagi para siswa bahwa kemajuan yang mereka rasakan saat ini tidak hadir secara instan. Gedung sekolah yang nyaman dan fasilitas pendidikan yang memadai merupakan buah dari perjuangan panjang para pendiri Muhammadiyah.
Dimas dari kelas XII.12 mengaku kegiatan ini menjadi pengalaman ngabuburit yang sangat berkesan. Selain menonton film, para siswa juga diajak berdiskusi dan menyampaikan pendapat di depan teman-temannya.
Menurutnya, kegiatan ini melatih keberanian beropini sekaligus mengintegrasikan isi film dengan teori sosiologi yang mereka pelajari.
“Kami diajak menapak tilas spirit amar ma’ruf nahi munkar,” ujarnya.
Melalui kegiatan bioskop edukatif tersebut, Smamda Surabaya menunjukkan bahwa pembelajaran sejarah dan ideologi dapat dikemas secara menarik, relevan, dan dekat dengan gaya belajar generasi muda masa kini.

