Pengabdian 35 Tahun Abah Joko Setara Tesis, Layak Menyandang Gelar ’Doktor Kehidupan’

SMAMDA.NET – Keluarga besar SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Surabaya menggelar acara purnatugas bagi Joko Ismutoto pada Selasa (3/2/2026) di Rumah Makan Joss Gandos, Jemursari. Acara ini menandai berakhirnya masa baktinya setelah 35 tahun mendedikasikan diri bagi institusi dan persyarikatan.

Dalam sambutannya, Kepala Smamda Surabaya Mukhlasin menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas konsistensi Abah Joko –sapaan akrab Joko Ismutoto– dalam mencetak generasi unggul. Ia menganalogikan dedikasi tersebut sebagai sebuah karya ilmiah yang sangat komprehensif.

“Rekam jejak Pak Joko selama 35 tahun di Smamda setara dengan sebuah tesis yang sangat tebal. Secara substansi, pengalaman beliau sudah layak diapresiasi dengan gelar Doktor Kehidupan,” tegas Mukhlasin.

Kepala sekolah juga berpesan agar purnatugas tidak memutus kontribusi pemikiran. Menggunakan analogi air, Mukhlasin menekankan bahwa air yang mengalir akan selalu terjaga kesuciannya, sedangkan air yang diam berisiko mendatangkan penyakit.

Diharapkan, Abah Joko tetap menjadi “payung” yang memberikan masukan strategis bagi kemajuan Smamda di masa depan.

Keluarga besar Smamda Surabaya berfoto bersama Abah Joko Ismutoto sebagai momen kenang-kenangan purnatugas dan penghormatan atas dedikasinya selama 35 tahun. (Dhea Rachma Safitri/Klikmu.co)

Saksi Sejarah

Perwakilan Rumpun Humaniora, Maurice, memberikan testimoni mengenai etos kerja Abah Joko. Menurut dia, setiap jengkal fasilitas di Pucang Anom menjadi saksi bisu atas dedikasi pengajarannya.

“Kesan yang ditinggalkan Pak Joko terlalu mendalam untuk dirangkum dalam kata-kata. Kini tugas kami adalah meneruskan estafet perjuangan dan nilai-nilai yang telah beliau tanamkan,” ujar Maurice.

Senada dengan hal tersebut, Ketua MGMP Humaniora, Candra, menyampaikan rasa terima kasih atas bimbingan Abah Joko yang selama ini berperan sebagai figur orang tua sekaligus mentor bagi rekan sejawat. Ia menutup sambutannya dengan permohonan maaf dan menggaungkan jargon “Seduluran Sak Lawase” sebagai simbol persaudaraan abadi.

Sebagai inti dari acara tersebut, Joko Ismutoto berbagi refleksi selama puluhan tahun mengajar. Ia mengenang dinamika bersama siswa serta kolaborasi erat dengan rekan seperjuangan, termasuk Deby dan Maurice.

Namun, pesan paling mendasar yang ia tekankan adalah mengenai orientasi utama pendidik. Mengutip prinsip kenabian, Abah Joko mengingatkan: “Bukanlah aku diutus, melainkan untuk membenahi akhlak umatku.”

Dia menegaskan bahwa tugas utama guru di Smamda adalah membangun dan membentengi akhlak siswa-siswi di tengah tantangan zaman. Baginya, penguatan karakter adalah kunci utama sebelum membekali siswa dengan ilmu pengetahuan.

Acara diakhiri dengan pemberian cinderamata dan doa bersama, menandai penghormatan terakhir bagi salah satu putra terbaik Smamda Surabaya.

Author:

I Am the Admin