
SMAMDA.NET – Pelaksanaan Sholat Iduladha 1447 Hijriah di SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (Smamda), Jalan Pucang Anom Nomor 91 Surabaya, berlangsung khidmat dan penuh antusiasme, Rabu (27/5/2026).
Ratusan jamaah yang terdiri atas siswa kelas X dan XI, wali murid, serta bapak ibu guru karyawan Smamda dan masyarakat sekitar tampak memadati jalan depan sekolah untuk bersama-sama menyambut Hari Raya Iduladha.
Bertindak sebagai khatib, Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Prof. Dr. H. Mundakir, M.Kep., FISQua., menyampaikan khutbah bertema “Refleksi Iduladha: Menguatkan Ketahanan Spiritual dan Sosial untuk Kesehatan Jiwa.”
Dalam khutbahnya, Prof. Mundakir menyoroti kondisi masyarakat modern yang semakin maju secara teknologi, namun justru banyak mengalami kesepian, kecemasan, hingga kehilangan makna hidup. Ia menyebut Iduladha hadir bukan sekadar perayaan kurban, tetapi juga menjadi pendidikan spiritual, mental, dan sosial bagi umat Islam.
Ia menjelaskan, poin pertama Iduladha adalah pentingnya memiliki ketahanan spiritual yang kuat. Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS menjadi teladan tentang kesabaran, keimanan, dan kepasrahan kepada Allah SWT dalam menghadapi ujian hidup. Menurutnya, ketenangan jiwa lahir dari keyakinan bahwa seluruh kehidupan berada dalam kuasa Allah.
Poin kedua, Iduladha juga mengajarkan pentingnya makna hidup. Prof. Mundakir menegaskan bahwa hidup bukan hanya soal memiliki, tetapi juga tentang memberi manfaat kepada sesama. Melalui ibadah kurban, manusia diajak belajar ikhlas, peduli, dan berbagi kebahagiaan kepada orang lain.
“Hidup bukan hanya soal mengumpulkan, tetapi juga soal mengikhlaskan dan memperluas manfaat,” ujarnya.
Poin ketiga yang disampaikan adalah Iduladha menguatkan ketahanan sosial. Menurutnya, ibadah kurban tidak hanya bersifat individual, tetapi juga sosial melalui salat berjamaah, silaturahmi, distribusi daging kurban, dan kepedulian kepada masyarakat sekitar.
Ia mengingatkan bahwa iman tidak boleh berhenti di sajadah, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk kepedulian sosial. Di tengah meningkatnya kasus kesepian dan tekanan mental, masyarakat diajak untuk saling menjaga, mendukung, dan menghadirkan lingkungan yang menenangkan.
Pada poin terakhir, Prof. Mundakir menjelaskan bahwa ibadah kurban juga menjadi terapi sosial dan spiritual. Kurban bukan hanya menyembelih hewan secara lahiriah, tetapi juga menyembelih sifat buruk dalam diri seperti egoisme, iri hati, keserakahan, dan cinta dunia yang berlebihan.
“Shalat membangun hubungan dengan Allah, sedangkan kurban membangun hubungan dengan sesama manusia,” jelasnya.
Melalui momentum Iduladha ini, jamaah diajak menjadikan kurban sebagai energi perubahan menuju pribadi yang lebih tangguh secara spiritual, lebih peduli secara sosial, serta mampu menghadapi tantangan kehidupan modern dengan iman dan kepedulian terhadap sesama.
(Hajjar Ekasari)


Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.