
SMAMDA.NET – Kegagalan tidak membuat langkah Gayatri Kayana Larasati berhenti. Siswi kelas 12.4 yang akrab disapa Yana ini berhasil membuktikan bahwa ketekunan dan keberanian untuk mencoba kembali mampu membawanya meraih mimpi. Setelah sempat gagal pada percobaan pertama, Yana akhirnya diterima di International Undergraduate Program (IUP) Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM). Selain itu, ia juga berhasil lolos di Teknik Sipil IUP Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Sejak awal, Yana mengaku memiliki ketertarikan besar terhadap hal-hal yang berkaitan dengan bumi dan proses yang terjadi di dalamnya. Ketertarikan itu yang kemudian mengarahkannya memilih Teknik Geologi sebagai jurusan impiannya.
“Sejak awal saya memang tertarik dengan hal-hal yang berbau bumi, struktur bumi, dan bagaimana manusia memahami proses yang ada pada bumi. Karena itu menurut saya Teknik Geologi merupakan jurusan yang paling sesuai dengan rasa ketertarikan saya,” ujarnya.
Tidak hanya tertarik pada bidang ilmunya, Yana juga memilih program IUP Teknik Geologi UGM karena melihat banyak peluang pengembangan diri di tingkat global. Menurutnya, program tersebut memiliki exposure internasional yang kuat serta penggunaan bahasa Inggris yang dapat menunjang kemampuan mahasiswa.
“Saya melihat program ini memiliki banyak peluang untuk mengembangkan mahasiswanya secara global, terutama penggunaan bahasa Inggris dan exposure-nya. Selain itu, reputasi UGM dan nilai-nilai yang dianut kampus ini juga sejalan dengan nilai-nilai saya,” tambahnya.
Namun perjalanan Yana menuju kampus impiannya tidak berjalan mulus. Pada percobaan pertama, ia harus menerima kenyataan belum berhasil lolos. Rasa kecewa bahkan sempat membuatnya mempertanyakan kemampuan dirinya sendiri.
“Waktu gagal di percobaan pertama tentu saya kecewa sampai mulai mempertanyakan kemampuan diri sendiri. Tetapi dengan bantuan orang tua, saya mencoba melihat kegagalan sebagai bahan evaluasi,” ungkap Yana.
Alih-alih menyerah, kegagalan tersebut justru semakin menguatkan keyakinannya bahwa Teknik Geologi adalah jurusan yang benar-benar ia inginkan. Ia kemudian melakukan evaluasi diri dan mempersiapkan diri lebih matang untuk percobaan berikutnya.
“Hal pertama yang saya lakukan tentu evaluasi diri. Saya mempersiapkan diri lebih intens, bahkan orang tua saya sampai membiayai kelas tambahan. Saya belajar dari percobaan pertama dengan memahami konsep lebih dalam dan mempelajari lebih banyak tentang jurusan yang saya tuju,” jelasnya.
Meski rasa takut gagal kembali masih menghantui, Yana berusaha fokus pada hal-hal yang bisa ia kendalikan, seperti latihan soal dan membangun mental yang lebih siap.
“Hasil itu ada di tangan Allah, tetapi usaha ada di tangan kita,” katanya.
Keberhasilan Yana juga tidak lepas dari dukungan penuh keluarga, terutama sang ayah, Tri Luhur Budiawan. Ia mengungkapkan bahwa sejak awal Yana memang memiliki ketertarikan besar pada Teknik Geologi.
“Di batch pertama, Yana lolos tahap IELTS dan GMST. Kami ikut senang dan optimis. Namun saat wawancara, Yana gugup dan kurang lancar menyampaikan jawabannya di depan empat dosen pewawancara,” tutur Tri Luhur.
Menurutnya, kegagalan pertama sempat membuat Yana terpukul. Akan tetapi, hal yang paling membanggakan baginya bukan hanya hasil akhir, melainkan proses Yana dalam belajar dari kegagalan dan tetap gigih memperjuangkan cita-citanya.
“Yang paling membanggakan bukan hanya hasil akhirnya, tetapi proses Yana belajar dari kegagalan dan tetap gigih mengejar cita-citanya,” ujarnya.
Sebagai orang tua, keluarga terus berupaya menjadi support system bagi Yana selama menjalani proses persiapan. Mereka memberikan dukungan moral, membantu melatih komunikasi bahasa Inggris, hingga membangun rasa percaya diri Yana.
“Bagi kami, yang terpenting bukan hanya soal diterima atau tidak, tetapi bagaimana Yana bisa belajar bangkit, berkembang, dan menjadi pribadi yang lebih kuat dari setiap proses yang dijalani,” tambahnya.
Yana juga memberikan pesan motivasi bagi teman-teman yang masih berjuang meraih impian.
“Allah wouldn’t have put a dream so big in your heart if it wasn’t achievable. Jadi untuk teman-teman yang masih berusaha, kalian bukan tidak mampu, tetapi terkadang memang membutuhkan waktu dan persiapan yang lebih matang. Jangan merasa tertinggal, karena ini proses kalian sendiri. Yang penting tetap berusaha dan terus berkembang,” pesannya.
Eka Haris Prastiwi


Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.