SMAMDA.NET – Momen pengumuman Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) selalu menyimpan cerita penuh emosi. Hal itu pula yang dirasakan oleh siswi SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (Smamda), Queen Merci Mireille Laquisha, saat detik-detik penentuan masa depannya tiba.
Sejak awal, Merci – sapaan akrabnya – mengaku telah menetapkan satu tujuan besar dalam hidupnya: menembus Kedokteran Universitas Airlangga (Unair). Bahkan, ia tidak pernah mempertimbangkan pilihan lain.
“Kedokteran Unair merupakan pilihan pertama saya dari awal. Saya sama sekali tidak pernah kepikiran memilih jurusan dan kampus lain,” ungkap Merci.
Keinginan kuat tersebut tidak lepas dari pengaruh keluarga. Sebagian besar anggota keluarganya merupakan lulusan Kedokteran Unair, sehingga menjadi inspirasi besar bagi Merci untuk mengikuti jejak mereka.
Perjalanan Merci menuju kampus impian dimulai dengan mengikuti Airlangga Education Expo (AEE) yang digelar pada 23–25 Januari 2026. Selain menggali informasi seputar kampus dan jurusan, keikutsertaannya dalam AEE juga menjadi syarat untuk mendaftar jalur golden ticket Unair.
Dalam proses seleksi, Merci melampirkan berbagai prestasi, mulai dari juara lomba tari, sertifikat AYIMUN, hingga partisipasi forum tingkat nasional. Ia juga memperoleh surat rekomendasi dari guru sebagai penguat. Seluruh dokumen tersebut kembali ia gunakan saat mendaftar SNBP melalui portal SNPMB.
Merci menegaskan bahwa ketelitian menjadi kunci penting dalam proses pendaftaran. Ia bahkan dibantu oleh orang tua dan guru untuk memastikan seluruh data yang diinput benar dan lengkap.
“Hal kecil seperti finalisasi akun juga sangat krusial. Banyak yang gagal hanya karena lupa finalisasi, jadi saya sangat teliti dalam hal itu,” jelas sulung 3 bersaudara ini.
Namun, di balik persiapan matang, rasa cemas tetap menyelimuti saat hari pengumuman tiba. Usai menunaikan salat Asar Selasa, 31 Maret 2026, momen yang dinanti akhirnya datang ketika orang tuanya mengajak membuka hasil bersama di ruang tamu.
Awalnya, Merci berniat melihat hasil seorang diri karena takut menghadapi kenyataan. Namun, situasi berubah ketika ia tak kuasa menahan tangis bahkan sebelum hasil diumumkan. Akhirnya, sang ayah mengambil alih untuk menekan tombol “lihat hasil”, sementara Merci terus bersholawat dengan haru.
Ketegangan itu berujung kebahagiaan saat layar menampilkan warna biru—tanda kelulusan.
“Alhamdulillah, hasilnya biru,” tuturnya penuh syukur.
Keberhasilan tersebut menjadi pencapaian istimewa bagi Merci, mengingat Kedokteran Unair adalah mimpi yang tak pernah berubah sejak awal. Ia pun mengaku bangga atas perjuangan yang telah dilalui, meski sebelumnya sempat merasa kurang percaya diri.
Ia juga sempat diliputi kekhawatiran akan mengecewakan orang-orang terdekat.
“Kepercayaan mereka kepada saya bahkan melebihi kepercayaan saya pada diri sendiri,” ujarnya.
Kini, rasa syukur menjadi hal utama yang ia rasakan. Merci meyakini bahwa usaha maksimal yang disertai doa akan selalu menemukan jalannya. Ia pun berpesan kepada siswa lain agar berani bermimpi besar, terus berusaha, dan tidak melupakan kekuatan doa.
“Saya sudah merasakan bahwa jalur langit itu nyata,” katanya.
Sementara itu, rasa bangga dan haru juga dirasakan Ibu Medhi, Mama Merci. Ia mengungkapkan rasa syukur mendalam atas keberhasilan putrinya.
“Alhamdulillah, sujud syukur dan sangat senang serta lega melihat hasil yang diinginkan,” ungkap dokter spesialis kulit ini.
Medhi menyampaikan terima kasih kepada seluruh guru Smamda yang telah membimbing Merci, termasuk wali kelas, guru BK, serta seluruh pihak sekolah dan teman-teman yang turut memberikan dukungan.
Ke depan, ia berharap Merci dapat menjalani studinya dengan lancar, tetap semangat, dan selalu bersyukur. Ia juga mendoakan agar Smamda terus berkembang menjadi sekolah unggul dalam mencetak generasi berprestasi.
Kisah Merci menjadi potret nyata bahwa mimpi besar yang diiringi kerja keras, ketelitian, dan doa dapat berbuah manis. Tangis haru di ruang tamu itu kini berubah menjadi awal langkah menuju cita-cita sebagai seorang dokter.
(Hajjar Ekasari)

