SMAMDA.NET – SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (Smamda) gelar kajian I’tikaf bagi guru dan karyawan, bahas Kalender Hijriyah Global Tunggal Muhammadiyah (KHGT), Jumat (13/3/2026).
Hadir sebagai narasumber, Dr Akhmad Mukarrom Mhum, anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dengan moderator Alif Jatmiko.
Dalam pemaparannya, Dr Akhmad Mukarrom menyampaikan materi bertajuk “Implementasi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) bagi Warga Muhammadiyah”. Ia menjelaskan bahwa Muhammadiyah mulai menggunakan KHGT sebagai sistem penanggalan Hijriah baru, termasuk dalam penentuan awal Ramadan pada tahun 2026/2027.
Kebijakan ini menjadi bagian dari rekonstruksi metode penentuan awal bulan yang sebelumnya digunakan Muhammadiyah, yakni hisab wujudul hilal.
“Kalender Hijriah Global Tunggal merupakan upaya untuk menyatukan penentuan awal bulan Hijriah bagi umat Islam di seluruh dunia,” ujar Dr Mukarrom.
Menurutnya, KHGT merupakan konsep penanggalan Islam yang menerapkan prinsip satu hari satu tanggal untuk seluruh dunia. Dengan konsep tersebut, umat Islam di berbagai negara diharapkan dapat menggunakan kalender Hijriah yang sama secara global.
Ia juga menegaskan bahwa penerapan KHGT tetap mempertahankan syarat dasar kalender Islam, yaitu jumlah hari dalam satu bulan minimal 29 hari dan maksimal 30 hari. Prinsip tersebut dijaga agar kalender Hijriah tetap sesuai dengan peredaran bulan yang menjadi dasar sistem penanggalan Islam.
Keputusan penerapan KHGT sendiri telah tercantum dalam Putusan Muktamar Muhammadiyah ke-47 pada tahun 2015 di Makassar. Muhammadiyah menilai perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah kerap menimbulkan perbedaan waktu pelaksanaan ibadah, seperti awal Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha, baik antarnegara maupun di dalam satu negara.
Perbedaan tersebut umumnya terjadi karena metode penentuan awal bulan yang bergantung pada kondisi geografis serta metode pengamatan bulan. Hal ini sering menyebabkan perbedaan penetapan waktu ibadah di berbagai wilayah, termasuk di Indonesia.
Di Indonesia sendiri, perbedaan penentuan awal bulan sering muncul karena penggunaan metode yang berbeda antara organisasi Islam dan pemerintah. Kondisi tersebut kerap menimbulkan ketidakpastian dalam penentuan waktu ibadah bagi masyarakat.
Dr Mukarrom juga menjelaskan bahwa metode rukyatul hilal memiliki sejumlah tantangan karena berkaitan erat dengan perhitungan dan pengamatan astronomi yang cukup kompleks. Keberhasilan melihat hilal dipengaruhi berbagai parameter astronomi, seperti posisi bulan terhadap matahari, ketinggian hilal, serta sudut jarak antara keduanya. Selain itu, kondisi geografis wilayah, termasuk pengaruh garis khatulistiwa terhadap visibilitas bulan, juga turut memengaruhi kemungkinan hilal dapat terlihat.
Kompleksitas faktor-faktor tersebut sering kali menyebabkan perbedaan hasil pengamatan sehingga keputusan mengenai penentuan awal bulan Hijriah dapat berbeda di berbagai tempat.
Karena itu, Muhammadiyah memandang perlu adanya upaya penyatuan kalender Hijriah secara internasional. Dengan adanya KHGT, diharapkan umat Islam memiliki kepastian waktu dalam menjalankan ibadah sekaligus dapat menyatukan pelaksanaan ibadah secara lebih luas.
Sebagai contoh akurasi sistem penanggalan berbasis astronomi, Dr Akhmad Mukarrom menyinggung peristiwa gerhana bulan total pada tanggal 3–4 Maret 2026 yang bertepatan dengan malam 14–15 Ramadan 1447 Hijriah. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa perhitungan kalender berbasis astronomi dapat bekerja secara akurat sesuai dengan peredaran bulan.
Pada sesi diskusi, para guru dan karyawan Smamda Surabaya tampak antusias mengajukan berbagai pertanyaan kepada pemateri. Salah satu pertanyaan berkaitan dengan cara menjelaskan konsep KHGT kepada siswa, mengingat perhitungan kalender Hijriah sangat erat kaitannya dengan ilmu astronomi yang cukup kompleks.
Menanggapi hal tersebut, Dr Mukarrom menyampaikan bahwa menjelaskan konsep astronomi kepada siswa memang tidak mudah, terutama bagi mereka yang belum memiliki dasar pemahaman tentang bidang tersebut. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya kerja sama antar guru serta integrasi materi tersebut dalam kurikulum pembelajaran di sekolah.
Selain itu, muncul pula pertanyaan mengenai kemampuan KHGT dalam memprediksi penanggalan Hijriah di masa depan, mengingat secara ilmiah bulan bergerak menjauhi bumi sekitar 3,8 sentimeter setiap tahun.
Menjawab hal tersebut, Dr Mukarrom menjelaskan bahwa secara astronomi pergerakan bulan, bumi, dan matahari telah dipahami melalui model matematika yang sangat akurat. Dengan model tersebut, fase bulan dapat dihitung hingga ratusan tahun ke depan. Pergerakan bulan yang menjauhi bumi tidak menjadi batasan praktis bagi prediksi kalender karena pengaruhnya sangat kecil dalam skala waktu tersebut.
Melalui kajian I’tikaf ini, diharapkan para guru dan karyawan Smamda Surabaya dapat memahami konsep KHGT dengan lebih baik serta mampu menyampaikan pemahaman tersebut kepada siswa secara lebih jelas dan sistematis.

