SMAMDA.NET — Isu pernikahan anak masih marak terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Selain itu, praktik sunat perempuan atau Female Genital Mutilation (FGM) juga masih ditemukan di sejumlah daerah, meskipun kerap luput dari perhatian publik.
Menyikapi kondisi tersebut, Program VOICE (Voicing Our Identity, Courage, and Empowerment) yang digagas oleh PP IPM bekerja sama dengan UNICEF Indonesia hadir di SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (Smamda), Selasa (27/1/2026).
Kegiatan ini bertujuan memberikan edukasi kepada pelajar mengenai pemahaman tubuh, hak atas pilihan, serta risiko pernikahan anak dan perlukaan genitalia perempuan. Kunjungan praktik Program VOICE tersebut diikuti oleh 35 siswa-siswi kelas X dan XI PR IPM Smamda dan berlangsung di Ruang Perpustakaan Lantai 2 Smamda Tower.
Sejak awal, suasana kegiatan berlangsung interaktif. Hal ini ditandai dengan kehadiran para peserta VOICE yang mengenakan busana bernuansa merah muda serta penyampaian materi yang komunikatif dan partisipatif.
Sesi pertama disampaikan oleh salah satu peserta VOICE, Mochammad Aditya Pratama dari SMA Senopati Sidoarjo. Ia memaparkan materi mengenai berbagai risiko pernikahan anak. Penyampaian materi diawali dengan pemutaran video edukatif sebagai pengantar, kemudian dilanjutkan dengan penjelasan lebih mendalam terkait dampak serta studi kasus yang menggambarkan kompleksitas persoalan pernikahan anak di Indonesia.

Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi kedua tentang Perlukaan Genitalia Perempuan atau FGM. Dalam sesi ini, para siswa diajak memahami bentuk-bentuk praktik FGM, dampak kesehatan yang ditimbulkan, serta alasan mengapa praktik tersebut merupakan pelanggaran terhadap hak anak dan perempuan.
Materi ini membuka wawasan peserta terhadap isu yang masih terjadi di beberapa daerah, namun jarang dibahas secara terbuka.
Beragam respons muncul dari para kader PR IPM Smamda setelah mengikuti kegiatan tersebut. Salah satunya disampaikan oleh Anindya Putri Prameswari (XI-3). Ia mengaku terkejut sekaligus memperoleh banyak pengetahuan baru.
“Paparan materinya seru banget. Aku awalnya tidak menyangka kalau pernikahan anak masih sebanyak itu. Untuk materi kedua, aku baru pertama kali mendengar tentang FGM. Karena di Surabaya mungkin belum banyak terjadi, ternyata praktiknya sangat ekstrem,” ungkapnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Naufal Aqiel Wahyuardana (XI-7). Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga melatih kepekaan sosial para peserta.
“Yang pertama pasti senang karena mendapat ilmu. Yang kedua, kita mendapatkan banyak pelajaran dan ke depannya bisa merespons isu-isu di sekitar kita dengan lebih baik,” ujarnya.
Melalui kunjungan praktik Program VOICE ini, para kader PR IPM Smamda diharapkan tidak hanya memahami isu pernikahan anak dan FGM secara teoritis, tetapi juga mampu berperan sebagai agen perubahan di lingkungan masing-masing. Edukasi tersebut menjadi langkah awal untuk menumbuhkan keberanian bersuara, kepedulian sosial, serta komitmen dalam melindungi hak anak dan perempuan.


Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.