Dari Gado-Gado, Tebak Umur Dosen, hingga Beli Peci Muhammadiyah: Terungkapnya Kisah Unik 3 Mahasiswa Turki di Smamda!

SMAMDA.NET – Kehadiran tiga mahasiswa asal Turki di SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Surabaya sejak Kamis (23/7/2026) hingga Jumat (31/7/2026) rupanya menyisakan banyak cerita tak terduga. Bukan sekadar kunjungan biasa, sembilan hari kebersamaan mereka dihabiskan dengan petualangan rasa, wisata alam dan religi, hingga momen-momen menggelitik yang merekatkan persaudaraan beda benua ini.

Gegar Budaya yang Lezat: Jatuh Cinta pada Gado-Gado
Keseruan sudah dimulai sejak hari pertama penjemputan. Ketiga mahasiswa tersebut langsung disambut dengan “ujian lidah” khas Nusantara. Pihak Smamda dengan bangga menyajikan hidangan lokal mulai dari ayam goreng, ikan gurami, ikan nila, hingga makanan wajib masyarakat Indonesia: tahu dan tempe.

Petualangan kuliner ini berlanjut pada makan siang di hari Senin dan Selasa. Lidah mereka kembali dimanjakan dengan makanan jalanan favorit Tanah Air, yakni bakso, mi ayam, dan gado-gado. Respons mereka? Tentu saja takjub dengan kekayaan bumbu khas Indonesia!

Hari Kamis yang Padat: Alam, Religi, dan Tawa di Kampus UMM
Memasuki hari Kamis, agenda mereka semakin seru. Didampingi oleh Wakil Kepala Urusan Humas Smamda, Ibu Ratna Yuli, serta Mas Fadhlan—mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Turki—ketiganya melakukan penjelajahan alam dan budaya Jawa Timur.

Destinasi pertama mereka adalah menikmati asrinya Air Terjun Dlundung. Setelah itu, rombongan bertolak menuju kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Di sinilah sebuah momen kocak terjadi. Saat Bu Ratna Yuli mempertemukan mereka dengan dua dosen UMM, yakni Bu Arina dan Bu Is, suasana yang awalnya formal seketika pecah. Di akhir perjumpaan, Tarik, salah satu mahasiswa Turki, dengan penuh percaya diri mencoba menebak usia kedua dosen tersebut. Tebakannya yang meleset jauh sukses membuat semua orang tertawa lepas.

Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan wisata religi ke Masjid Sunan Ampel. Di tempat bersejarah ini, Ahmet, yang juga merupakan seorang Hafidz Qur’an, tampak begitu terpukau. Ia bahkan menyempatkan diri mengambil video dokumentasi menggunakan bahasa Turki untuk menceritakan kemegahan masjid tersebut kepada keluarga di kampung halamannya.

Rasa rindu akan rumah sedikit terobati ketika mereka mampir ke sebuah kedai makanan Turki (Turkish food). Kejutan tak terduga menanti mereka: sang penjual ternyata adalah orang Turki asli yang sudah tiga tahun berada di lingkungan Surabaya. Pertemuan “saudara setanah air” ini pun berujung pada obrolan panjang yang hangat.

Perpisahan Hangat dan Janji Persaudaraan
Jumat (31/7/2026) menjadi hari terakhir yang penuh haru. Selepas salat Jumat, sebuah acara perpisahan sederhana namun bermakna digelar di ruang rapat lantai 4 Smamda, dihadiri oleh seluruh jajaran wakil kepala sekolah.

Mewakili Bapak Kepala Sekolah, Ibu Ratna Yuli menyampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan selama melayani mereka. Ia juga memberikan apresiasi tinggi karena ketiga mahasiswa tersebut telah berkenan membagikan wawasan dan budaya mereka kepada sembilan kelas internasional (kelas X dan XI) di Smamda.

Secara bergantian, ketiga mahasiswa Turki tersebut menyampaikan pesan dan kesan mereka yang menyentuh hati:
* Tarik: Membuka sesi dengan penuh kerendahan hati, meminta maaf apabila kehadiran mereka selama sembilan hari telah merepotkan jajaran guru dan waka Smamda.
* Ahmet: Menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam secara khusus kepada Bapak Mukhlasin, yang dinilai telah memberikan pelayanan dan pendampingan luar biasa, bahkan hingga larut malam.
* Yusuf: Menutup dengan sebuah janji yang manis. Ia menegaskan bahwa apabila kelak keluarga besar Smamda berkunjung ke Turki, mereka akan membalas budi dan memberikan pelayanan yang sama luar biasanya.

Kenang-kenangan Berharga: Peci Muhammadiyah
Sebelum benar-benar berpisah, rombongan diantar oleh Pak Dul, pengemudi setia Smamda, menuju Sidoarjo. Namun, perjalanan ini memiliki satu perhentian terakhir yang sangat spesial. Rombongan singgah sejenak di Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) untuk membeli sebuah peci berlogo Muhammadiyah. Peci tersebut akan dibawa pulang ke Turki sebagai kenang-kenangan manis dan simbol persaudaraan abadi dari Surabaya.

Ratna Yuliawati

Author:

I Am the Admin