
SMAMDA.NET – Geliat pendidikan dan pertukaran budaya global kembali mewarnai lingkungan sekolah di Indonesia. Kali ini, tiga mahasiswa asal Turki—Tarik, Yusuf, dan Ahmed—hadir secara khusus untuk mempelajari nilai-nilai dan penerapan Kemuhammadiyahan di beberapa sekolah, dengan fokus utama kegiatan di SMA Muhammadiyah 2 (SMAMDA) Surabaya.
Mahasiswa yang masih berusia 20 dan 22 tahun ini berasal dari latar belakang keilmuan yang bergengsi, yakni jurusan Ekonomi, Ilmu Politik dan Kedokteran. Kehadiran mereka tidak hanya membawa misi akademis, tetapi juga semangat kolaborasi lintas negara.
Cerita Kedatangan dan Adaptasi Waktu
Perjalanan Tarik, Yusuf, dan Ahmet di Kota Pahlawan dimulai pada hari Kamis malam. Mereka dijemput langsung di Stasiun Gubeng dan langsung diajak menikmati makan malam penyambutan yang hangat.
Ada cerita menarik dan mengundang senyum terkait proses adaptasi mereka. Pada hari Jumat keesokan harinya, mereka bangun pagi untuk menunaikan shalat Subuh, meskipun di akhir waktu. Alih-alih langsung memulai aktivitas, mereka memilih untuk kembali beristirahat dan tidur. Hal ini rupanya sangat wajar bagi mereka, mengingat jam aktivitas reguler di Turki pada umumnya baru benar-benar dimulai pada pukul 09.00 pagi.
Eksplorasi Kuliner: Menghindari Pedas, Jatuh Cinta pada Kue Manis
Tinggal di Indonesia tentu menjadi tantangan tersendiri bagi lidah Eropa-Asia mereka, terutama terkait kuliner. Ketiga mahasiswa ini memiliki preferensi makanan yang cukup spesifik:
* Anti-Pedas dan Sedikit Nasi: Mereka sama sekali tidak bisa memakan makanan pedas dan tidak terbiasa mengonsumsi nasi dalam jumlah banyak.
* Menu Andalan: Menu yang paling mereka cari dan nikmati adalah roti yang dipadukan dengan keju, sosis, ataupun olahan daging bakar.
* Jajanan Lokal Favorit: Menariknya, mereka berhasil menemukan kecocokan dengan camilan lokal. Mereka sangat menggemari tahu isi serta kue-kue tradisional maupun modern yang bercita rasa manis.
Eksplorasi kuliner mereka berlanjut di hari Jumat 24 Juli 2026 ketika mereka disuguhi bakso dan kue pie. Perpaduan kuliner ini rupanya meninggalkan kesan mendalam, terutama bagi Yusuf. Ia mengaku sangat menikmati sajian penutup yang diberikan. “Saya suka sekali, karena kuenya manis,” ungkap Yusuf Karem dengan antusias yang di artikan dalam bahasa indonesi oleh Fadlan mahasiswa indonesia yang kuliah S-1 da S-2 di Turki.
Misi Akademis di Kelas Internasional
Selain meneliti dan mempelajari bagaimana sistem Kemuhammadiyahan diintegrasikan dalam pendidikan Indonesia, Tarik, Yusuf, dan Ahmed juga memiliki agenda penting lainnya. Mereka dijadwalkan untuk membagikan wawasan dan melakukan sharing budaya secara langsung dengan para siswa.
Ketiganya akan masuk dan berinteraksi langsung di beberapa Kelas X dan XI Internasional. Melalui sesi berbagi ini, diharapkan para siswa dapat mengenal lebih dekat budaya, pendidikan, dan kehidupan di Turki, sekaligus memberikan kesempatan bagi ketiga mahasiswa tersebut untuk melihat langsung dinamika belajar mengajar yang berstandar global di lingkungan SMAMDA. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata bahwa pertukaran nilai pendidikan dan budaya mampu menjembatani perbedaan antarnegara dengan cara yang sangat menyenangkan. Sebelum pulang ketiga mahasiwa tersebut pamit keluar ruangan. “Maturnuwun” ungkap Ahmet Salih sambil menundukkan kepala nya.
Ratna Yuliawati


Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.