
SMAMDA.NET — Pada tanggal 23 Juni 2026, PR IPM SMA Muhammadiyah 2 Surabaya melaksanakan Upgrading yang dilaksanakan di Yogyakarta selama 2 hari. Kegiatan ini bertujuan agar para kader mampu memahami apa IPM itu sendiri lebih dalam dan memantapkan jiwa ke-Muhammadiyahan yang ada dalam diri mereka. Kegiatan ini diikuti oleh 33 kader PR IPM SMAMDA yang antusias untuk mengikuti kegiatan hingga akhir acara.
Salah satu lokasi yang dituju pada kegiatan Upgrading kali inj adalah Masjid Gedhe Kauman yang terletak tidak jauh dari Alun-Alun Keraton. Masjid ini menjadi salah satu penanda penting dari berdirinya Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Bangunan religius ini bukan sekadar tempat ibadah biasa, melainkan sebuah mahakarya arsitektur yang sarat akan makna filosofis. Keberadaannya secara tata ruang melengkapi elemen catur gatra tunggal ibu kota kerajaan yang terdiri dari keraton, alun-alun, pasar, dan masjid. Sebagai pusat syiar agama Islam, masjid ini telah menyaksikan berbagai perubahan zaman, mulai dari masa penjajahan kolonial hingga era kemerdekaan modern. Saat memasuki bangunan ini, dapat terlihat corak budaya Islam dan Hindu-Buddha pada arsitektur masjidnya. Menurut Fadlan, arsitektur masjid ini kental akan corak budaya khas Jawa dan juga pengaruh ajaran Muhammadiyah juga terasa saat beribadah.
Menilik jauh ke belakang, sejarah berdirinya Masjid Gedhe Kauman tidak bisa dilepaskan dari peran besar pendiri Kesultanan Yogyakarta itu sendiri. Masjid agung yang sangat bersejarah ini resmi dibangun pada tanggal 29 Mei 1773 Masehi atau bertepatan dengan penanggalan 6 Rabiul Akhir 1187 Hijriah.
Pembangunannya diprakarsai langsung secara bersama-sama oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I dan Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat, yang menjabat sebagai penghulu keraton saat itu. Adapun arsitek yang merancang rancang bangun bangunan megah ini adalah Kyai Wiryokusumo, seorang seniman bangunan keraton yang sangat memahami kedalaman filosofi Jawa. Pembangunan sarana ibadah ini dilakukan beberapa belas tahun setelah keraton Yogyakarta berdiri pasca ditandatanganinya Perjanjian Giyanti pada tahun 1755. Latar belakang utama didirikannya masjid ini adalah untuk menyediakan fasilitas spiritual yang memadai bagi raja, kerabat keraton, dan rakyat Yogyakarta secara keseluruhan. Pemilihan lokasi di Kauman juga memiliki tujuan khusus, yakni menjadikan kawasan tersebut sebagai sentra pemukiman para ulama dan santri yang mendukung kegiatan keagamaan keraton. Seiring berjalannya waktu, kawasan Kauman benar-benar berkembang pesat menjadi kampung santri yang melahirkan banyak tokoh Islam nasional, termasuk pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Fakta sejarah ini membuktikan bahwa masjid ini tidak hanya berfungsi secara pasif, tetapi secara aktif membentuk ekosistem sosial dan pergerakan masyarakat di sekitarnya. Karenanya, masjid ini dengan bangga memegang predikat sebagai salah satu cagar budaya dan masjid tertua yang ada di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Keunikan paling menonjol dari Masjid Gedhe Kauman terletak pada detail arsitekturnya yang memadukan corak Islam dan budaya Jawa klasik dengan sangat kental. Berbeda dengan masjid-masjid di kawasan Timur Tengah yang identik dengan kubah bulat, masjid ini menggunakan sistem atap berbentuk tajug lambang teplok bersusun tiga. Atap bersusun tiga yang meruncing ke atas ini bukanlah tanpa makna, melainkan sebuah representasi dari tiga tingkatan pencapaian spiritualitas dalam agama Islam, yaitu Syariat, Tariqat, dan Hakekat. Di bagian puncak atap tertinggi tersebut terdapat sebuah mustoko atau mahkota berbentuk menyerupai daun kluwih dan gada yang melambangkan keesaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Keseluruhan kerangka atap utama di ruang shalat ini disangga kokoh oleh empat tiang utama yang terbuat dari kayu jati utuh, yang biasa dikenal dengan sebutan saka guru. Usia saka guru tersebut diperkirakan sudah mencapai ratusan tahun namun hingga hari ini masih berdiri sangat kokoh menopang beban struktur bangunan yang sangat berat. Pada bagian dalam dinding bangunan utama, jamaah tidak akan menemukan banyak kaligrafi atau ornamen tulisan Arab yang mencolok seperti pada masjid modern pada umumnya. Ornamen yang menghiasi interior masjid justru didominasi oleh ukiran bermotif flora khas Jawa yang menyiratkan pesan keindahan alam semesta dan kedamaian hati manusia. Lantai masjid pada awalnya konon hanya berupa susunan batu kali yang dihaluskan, namun kini sebagian besar permukaannya telah dilapisi dengan pualam atau marmer putih yang memberikan efek dingin. Konstruksi bangunan yang didesain serba terbuka dengan banyak ventilasi kayu memastikan sirkulasi udara berjalan dengan sangat baik, sehingga jamaah tetap merasa nyaman berlama-lama di dalamnya.
Tata ruang dalam kompleks Masjid Gedhe Kauman dibagi menjadi beberapa area fungsional yang masing-masing memiliki peran kultural dan historis yang spesifik. Memasuki bagian paling depan, jamaah akan langsung disambut oleh sebuah serambi utama yang sangat luas, yang atapnya juga disangga oleh puluhan pilar kayu jati berwarna gelap. Serambi terbuka ini sering difungsikan untuk memfasilitasi berbagai kegiatan kemasyarakatan, mulai dari pengajian akbar mingguan, prosesi akad nikah, hingga ruang istirahat bagi para musafir yang singgah. Berjalan melangkah lebih jauh ke bagian dalam, terdapat ruang shalat utama yang sangat sakral, di mana atmosfer kekhusyukan dan ketenangan langsung menyelimuti setiap jiwa jamaah. Di dalam ruang utama bagian depan ini, terdapat sebuah area khusus dan tertutup bernama maksura, yakni sebuah ruang berbentuk bujur sangkar yang didedikasikan sebagai tempat shalat Sultan. Maksura ini memiliki detail unik karena dilengkapi dengan tempat meletakkan tombak di bagian pintunya, sebagai pengingat akan keamanan raja sekaligus simbol penghormatan tertinggi kepada pemimpin keraton. Selain itu, di sisi utara dan selatan pada halaman depan masjid terdapat dua bangunan pendopo kembar yang cukup mencolok yang dikenal dengan sebutan bangsal Pagongan. Bangunan Pagongan ini memiliki fungsi yang sangat unik dan krusial dalam pelestarian budaya setempat, yaitu sebagai tempat khusus penempatan gamelan pusaka milik keraton. Setiap kali perayaan tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW tiba, gamelan pusaka Kyai Guntur Madu dan Kyai Nogo Wilogo akan dimainkan secara bergantian dari kedua bangunan Pagongan ini. Pemisahan tata ruang yang terstruktur dan sangat fungsional ini memperlihatkan betapa telitinya para arsitek dan pendiri masjid zaman dahulu dalam merancang sebuah pusat peradaban yang multifungsi.
Sebagai sebuah masjid yang berstatus kagungan dalem atau aset milik raja, eksistensi Masjid Gedhe Kauman tentu saja memiliki landasan teologis dan politis yang sangat kuat. Keraton Yogyakarta di bawah kepemimpinan Hamengkubuwono I memahami betul bahwa kekuasaan seorang raja harus berlandaskan pada nilai-nilai agama untuk menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya. Konsep tata negara ini sering disebut sebagai Panatagama, di mana seorang Sultan tidak hanya bertindak sebagai pemegang kekuasaan politik, tetapi juga berperan sebagai pelindung dan pengatur urusan agama. Keberadaan fisik bangunan masjid ini menjadi representasi paling nyata dari konsep tersebut, di mana segala urusan keagamaan di tingkat kerajaan dipusatkan dan diatur dari tempat ini. Selain sebagai tempat ibadah, pada masa lampau serambi masjid ini juga difungsikan sebagai ruang pengadilan agama tertinggi (Pengadilan Surambi) yang bertugas menyelesaikan berbagai persoalan hukum keluarga dan perdata Islam. Para pejabat penghulu keraton yang berkantor di sekitar area masjid ini mendapatkan otoritas penuh dari Sultan untuk mengeluarkan fatwa, nasehat, dan keputusan hukum bagi masyarakat luas. Sinergi yang harmonis antara institusi keraton dan masjid ini mencerminkan tingginya nilai filosofi Jawa “Manunggaling Kawula Gusti” yang juga dapat diartikan sebagai persatuan emosional antara pemimpin dan rakyatnya dalam bimbingan syariat Tuhan. Sistem monarki Islam semacam ini berhasil memastikan bahwa proses penyebaran agama Islam di tanah Jawa, khususnya di wilayah Yogyakarta, berlangsung dengan sangat damai, tertib, dan terstruktur. Tidak ada paksaan atau kekerasan militer dalam proses Islamisasi masyarakat tersebut, melainkan dilakukan murni melalui pendekatan persuasif, asimilasi kebudayaan, dan keteladanan moral dari para pemimpinnya. Alhasil, ajaran Islam dapat mengakar dengan sangat kuat dalam denyut nadi kehidupan masyarakat Jawa tanpa harus menghapus atau memusnahkan warisan budaya lokal yang sudah ada sejak era sebelumnya.
Tradisi budaya lokal dan nilai-nilai luhur agama seakan melebur menjadi satu entitas yang sangat harmonis dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan yang berpusat di kompleks Masjid Gedhe Kauman. Salah satu momentum budaya paling kolosal yang rutin diselenggarakan setiap tahun dan selalu berhasil menyita perhatian publik nasional adalah tradisi perayaan Sekaten. Sekaten merupakan sebuah festival kebudayaan sekaligus perayaan keagamaan yang digelar khusus untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, yang dirayakan setiap bulan Rabiul Awal pada sistem penanggalan Hijriah. Selama kurang lebih satu minggu penuh, kompleks sekitar masjid dan Alun-Alun Utara akan berubah drastis dipenuhi oleh lautan manusia dari berbagai pelosok daerah yang ingin turut merayakan kegembiraan tersebut. Suara alunan nada gamelan keraton yang ditabuh dari bangsal Pagongan akan terus bergema melintasi udara Yogyakarta, mengiringi aktivitas para pengunjung dan menciptakan nuansa magis yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Puncak kemeriahan dari keseluruhan rangkaian tradisi Sekaten ini adalah prosesi upacara Grebeg Maulud, di mana pihak keraton akan mengeluarkan beberapa buah gunungan yang terbuat dari hasil bumi masyarakat. Gunungan megah yang berisi susunan berbagai macam sayuran, buah-buahan segar, dan aneka jajanan tradisional tersebut akan diarak dengan pengawalan prajurit keraton menuju halaman Masjid Gedhe Kauman untuk didoakan secara Islami. Setelah prosesi doa panjang yang dipimpin langsung oleh penghulu masjid selesai dibacakan, gunungan tersebut akan langsung diperebutkan dengan suka cita oleh ribuan warga masyarakat yang secara spiritual meyakininya dapat membawa berkah kehidupan. Rangkaian tradisi yang telah bertahan kokoh selama ratusan tahun ini menjadi bukti empiris yang nyata tentang bagaimana para ulama zaman dahulu cerdas menggunakan pendekatan seni dan budaya sebagai instrumen berdakwah. Melalui metode inkulturasi semacam ini, pesan-pesan esensial agama Islam dapat tersampaikan dengan sangat efektif, tanpa resistensi, dan diterima dengan penuh rasa syukur serta kegembiraan oleh masyarakat luas.
Pada era peradaban modern saat ini, peran fungsional Masjid Gedhe Kauman dituntut untuk terus beradaptasi dengan dinamika kebutuhan umat tanpa boleh melepaskan identitas akar historis dan kulturalnya. Pihak takmir masjid secara aktif merancang dan menyelenggarakan berbagai program pendidikan serta kajian Islam kontemporer yang secara inklusif menyasar berbagai kalangan usia, mulai dari anak-anak TPA hingga orang dewasa. Ketika bulan suci Ramadhan tiba setiap tahunnya, denyut kehidupan sosial dan keagamaan di kompleks masjid ini menjadi jauh lebih hidup, semarak, dan padat merayap dibandingkan bulan-bulan lainnya. Terdapat sebuah tradisi kuliner buka puasa yang sangat khas, unik, dan melegenda di kalangan warga Yogyakarta, yaitu pembagian hidangan takjil berupa gulai kambing yang rutin diadakan setiap hari Kamis. Menu spesial gulai kambing ini konon menurut sejarahnya merupakan salah satu hidangan favorit peninggalan dari masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VIII yang terus dilestarikan dengan bangga hingga detik ini. Ribuan jamaah dari berbagai pelosok kota rela datang dan mengantre sejak sore hari demi bisa merasakan nikmatnya suasana berbuka puasa bersama secara sederhana di atas karpet serambi masjid. Selain kegiatan buka puasa, agenda rutin keagamaan seperti tadarus Al-Quran, shalat Tarawih berjamaah dengan formasi penuh, dan kegiatan i’tikaf di sepuluh malam terakhir Ramadhan selalu dipadati oleh warga lokal dan kalangan mahasiswa perantauan. Guna mendukung tingginya antusiasme tersebut, fasilitas pendukung masjid pun terus ditingkatkan secara bertahap, mencakup perbaikan ruang perpustakaan yang mengoleksi berbagai literatur keislaman klasik, pembaruan sistem audio yang lebih jernih, serta penyediaan jalur khusus yang ramah bagi kaum difabel. Kebersihan seluruh area masjid juga diawasi dan dijaga dengan sangat ketat oleh regu petugas kebersihan khusus, untuk memastikan setiap jengkal lantai marmer suci dari segala bentuk najis dan kotoran. Semua jerih payah ini dilakukan semata-mata agar jamaah dari generasi masa kini tetap merasa dihormati, difasilitasi dengan nyaman, dan betah berlama-lama menghabiskan waktunya berada di dalam rumah Allah tersebut.
Saat kami berkeliling melihat masjid ini, kami berhasil mewawancarai salah satu takmir masjid dari Masjid Gedhe Kauman, ia berkata. “Masjid ini adalah amanah dari para leluhur Mataram yang harus kita jaga keaslian fisiknya maupun roh syiarnya” ujar bapak takmir tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa takmir masjid bersungguh-sungguh untuk tetap menjaga agar masjid terus eksis ditengah zaman yang makin dinamis. Masjid Gedhe Kauman merupakan salah satu peninggalan dan cagar budaya yang harus senantiasa dijaga eksistensinya karena masjid ini adalah bukti perjuangan para ulama terdahulu dalam menyiarkan agama Islam di Nusantara. Obor semangat mereka sekarang ada di tangan kita, maka kita harus melestarikan dan terus menjaga Masjid Gedhe Kauman agar terus relevan dengan zaman sekarang namun dengan tetap menjaga nilai kultural dan nilai agama.
Camaro Elmalik


Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.