
SMAMDA.NET – Peserta Upgrading Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PR IPM) SMA Muhammadiyah 2 Surabaya melaksanakan kunjungan edukatif ke Museum Muhammadiyah, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Rabu, 24 Juni 2026. Kegiatan ini menjadi salah satu rangkaian upgrading yang bertujuan menambah wawasan kader mengenai sejarah dan perkembangan Muhammadiyah. Sebelum memasuki area museum, seluruh peserta terlebih dahulu melakukan sesi foto bersama sebagai dokumentasi kegiatan. Setelah itu, peserta diarahkan memasuki museum dan mendapatkan penjelasan singkat dari pemandu mengenai alur kunjungan museum yang terbagi dalam beberapa zona di setiap lantainya. Kunjungan tersebut berlangsung secara bergantian dengan didampingi pemandu museum pada setiap area pameran. Para peserta juga diperbolehkan mendokumentasikan kegiatan selama berada di dalam museum.
Pada lantai pertama, peserta memasuki Zona Pengkondisian dan Pembawa Cahaya yang menjadi area pembuka Museum Muhammadiyah. Pada area tersebut, peserta melihat galeri Ketua Umum Muhammadiyah dari masa ke masa yang menampilkan potret para pemimpin Muhammadiyah sejak awal berdiri hingga sekarang. Pemandu menjelaskan bahwa setiap ketua umum memiliki peran penting dalam perkembangan dakwah, pendidikan, dan gerakan sosial Muhammadiyah. Menariknya, beberapa lukisan di museum dapat dipindai menggunakan aplikasi Museum Muhammadiyah sehingga pengunjung dapat melihat informasi dan biografi tokoh secara digital melalui fitur augmented reality (AR). Teknologi tersebut membuat pengunjung dapat mempelajari sejarah dengan cara yang lebih interaktif. Peserta tampak memperhatikan penjelasan yang diberikan oleh pemandu museum mengenai tokoh-tokoh Muhammadiyah tersebut.
Selain galeri Ketua Umum Muhammadiyah, pada lantai yang sama juga terdapat deretan lukisan tokoh nasional dan tokoh Muhammadiyah seperti Ir. Soekarno, Jenderal Soedirman, Ki Bagus Hadikusumo, dan KH Ahmad Dahlan. Pemandu menjelaskan bahwa Muhammadiyah memiliki kontribusi besar dalam perjuangan bangsa Indonesia, baik dalam bidang pendidikan, dakwah, maupun perjuangan kemerdekaan. Di bagian tengah lantai pertama, peserta juga melihat instalasi berbentuk bola dunia yang menjadi salah satu ikon interaktif di Museum Muhammadiyah. Instalasi tersebut dapat dipindai menggunakan aplikasi Museum Muhammadiyah untuk menampilkan visual digital mengenai persebaran Muhammadiyah di berbagai negara. Selain itu, pada beberapa area penghubung antar lantai juga terdapat kaligrafi artistik yang menggambarkan nilai spiritual dan dakwah Islam dalam Muhammadiyah. Kehadiran teknologi digital dan desain visual modern membuat museum terasa lebih menarik bagi generasi muda.
Salah satu pemandu Museum Muhammadiyah menjelaskan bahwa museum tersebut dirancang dengan konsep modern agar generasi muda lebih tertarik mempelajari sejarah Muhammadiyah. “Museum ini dibuat bukan hanya untuk menyimpan sejarah, tetapi juga agar pengunjung, khususnya generasi muda, dapat belajar sejarah Muhammadiyah dengan cara yang lebih menarik, interaktif, dan mudah dipahami,” ujarnya. Penjelasan tersebut membuat peserta semakin memahami tujuan dibangunnya Museum Muhammadiyah sebagai sarana edukasi sejarah yang modern. Selain menjadi tempat penyimpanan sejarah, museum ini juga menjadi media pembelajaran yang memadukan teknologi dengan nilai keislaman. Beberapa peserta juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mencoba fitur interaktif yang tersedia di dalam museum.
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju lantai dua yang berisi zona sejarah KH Ahmad Dahlan dan awal berdirinya Muhammadiyah. Pada area tersebut, peserta melihat berbagai dokumentasi mengenai perjalanan hidup KH Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah. Pemandu menjelaskan bahwa KH Ahmad Dahlan pernah menuntut ilmu ke Makkah pada masa muda untuk memperdalam ilmu agama. Pada zona ini juga terdapat miniatur kapal besar yang menggambarkan perjalanan beliau menuju Makkah. Setelah kembali ke Yogyakarta, KH Ahmad Dahlan mulai memperkenalkan pemikiran pembaruan Islam, salah satunya mengenai arah kiblat Masjid Gedhe Kauman yang dinilai kurang tepat. Pemikiran tersebut sempat mendapat penolakan dari masyarakat karena dianggap menyimpang dari kebiasaan saat itu. Langgar milik KH Ahmad Dahlan yang digunakan untuk mengajarkan arah kiblat baru bahkan sempat dirusak oleh warga. Dari perjuangan dan semangat pembaruan itulah akhirnya Muhammadiyah didirikan pada tahun 1912 sebagai gerakan dakwah dan pendidikan Islam yang berkemajuan.
Selain sejarah berdirinya Muhammadiyah, peserta juga melihat dokumentasi perkembangan organisasi Muhammadiyah dari masa ke masa. Di area tersebut dipajang berbagai arsip, foto, dan informasi mengenai perkembangan dakwah Muhammadiyah dalam bidang pendidikan, sosial, dan kesehatan. Pemandu menjelaskan bahwa Muhammadiyah berkembang pesat melalui berbagai amal usaha yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Penjelasan tersebut membuat peserta lebih memahami bagaimana Muhammadiyah dapat terus berkembang hingga saat ini. Beberapa peserta terlihat mencatat informasi penting yang dijelaskan oleh pemandu museum. Suasana kunjungan berlangsung tertib hingga seluruh peserta selesai mengelilingi area lantai dua.
Pada area koleksi artefak sejarah, peserta melihat berbagai benda bersejarah yang dipamerkan di dalam etalase kaca, salah satunya sebilah keris tua. Pemandu museum menjelaskan bahwa keris tersebut merupakan pemberian Sri Sultan Hamengku Buwono VII kepada KH Sudjak, tokoh awal Muhammadiyah dan murid KH Ahmad Dahlan. Keris tersebut diberikan sebagai bentuk penghargaan atas jasa KH Sudjak bersama PKU Muhammadiyah dalam membantu pelayanan kesehatan masyarakat Yogyakarta pada masa itu. Selain keris, terdapat pula beberapa koleksi lain yang berkaitan dengan perkembangan Muhammadiyah pada masa awal berdirinya. Koleksi tersebut menunjukkan bahwa Muhammadiyah juga memiliki peran besar dalam bidang sosial dan kesehatan masyarakat sejak dahulu. Peserta tampak antusias memperhatikan koleksi artefak yang dipamerkan pada area tersebut.
Selanjutnya, peserta melanjutkan kunjungan menuju lantai tiga yang berisi zona Gerakan, Amal Usaha, dan Persebaran Muhammadiyah. Pada area tersebut dijelaskan perkembangan Muhammadiyah di berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara. Peserta juga melihat informasi mengenai amal usaha Muhammadiyah dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan dakwah. Selain itu, terdapat penjelasan mengenai organisasi otonom Muhammadiyah seperti Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Hizbul Wathan, Tapak Suci Putera Muhammadiyah, serta Aisyiyah. Penjelasan tersebut membuat peserta lebih memahami luasnya gerakan Muhammadiyah dalam membangun masyarakat melalui berbagai bidang kehidupan. Pada akhir kunjungan, peserta diberi kesempatan untuk kembali melihat area museum sebelum melanjutkan kegiatan berikutnya.
Salah satu peserta Upgrading PR IPM SMAMDA Surabaya, yaitu Ammara, mengungkapkan kesannya setelah mengikuti kunjungan ke Museum Muhammadiyah. Menurutnya, hal pertama yang terlintas saat memasuki museum adalah kesan modern yang ditampilkan dari desain bangunan, pemilihan warna, hingga tata letak pameran yang tertata secara menarik dan estetik. Ia menilai konsep museum tersebut sangat cocok untuk generasi muda, khususnya kader Muhammadiyah, agar lebih tertarik mempelajari sejarah organisasi. “Kata yang pertama kali kepikiran pas masuk Museum Muhammadiyah tuh modern. Dari desain bangunan, pemilihan warna cat, dan tata letak pamerannya dibuat se-aesthetic itu. Cocok buat para remaja kader Muhammadiyah, contohnya kayak PR IPM SMAMDA ini buat belajar lebih dalam tentang bagaimana perjalanan Muhammadiyah sejak awal berdiri hingga sekarang,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa keberadaan pendamping atau pemandu pada setiap zona museum membuat peserta lebih mudah memahami isi pameran dan sejarah yang dijelaskan. Menurutnya, penjelasan langsung dari pemandu membuat kunjungan terasa lebih interaktif dibandingkan hanya melihat koleksi museum secara mandiri. “Apalagi kunjungan PR IPM SMAMDA ini udah sekaligus dapat pendamping untuk menerangkan tiap-tiap bagian dari pamerannya, jadi tentunya bisa lebih paham,” tambahnya. Selain menyampaikan kesannya, ia juga memberikan harapan terhadap perkembangan Muhammadiyah ke depan. “Semoga bisa sukses dan terus berkembang sampai nanti Muhammadiyah akhirnya dikenal di seluruh penjuru dunia,” tutupnya.
Melalui kunjungan ini, peserta upgrading tidak hanya memperoleh pengetahuan sejarah, tetapi juga memahami nilai perjuangan dan semangat kaderisasi Muhammadiyah. Museum Muhammadiyah menjadi salah satu sarana pembelajaran yang efektif bagi generasi muda untuk mengenal sejarah secara langsung. Kegiatan kunjungan edukatif seperti ini diharapkan dapat terus dilaksanakan untuk memperkuat wawasan serta identitas kader IPM sebagai pelajar Muhammadiyah yang berkemajuan. Selain menambah pengetahuan, kegiatan ini juga menjadi pengalaman berharga bagi peserta dalam mengenal sejarah Muhammadiyah secara lebih dekat dan mendalam.
Raihanul Islam kelas XI.6


Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.