Anak Suka Kelahi Bisa Berprestasi Saat Pindah Sekolah Sesuai Passionnya

Gemuruh gelak tawa siswa SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (Smamda) dan orangtuanya memenuhi ruangan lantai 13 At Tauhid Tower Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya), Sabtu (3/11/2018)

Bagus Sanyoto, konsultan psikologi, yang dihadirkan dalam talkshow bertajuk Create Your Future Success, Choose the Right Educationmampu memecah keheningan ruangan itu. Pembawaannya yang santai dan lucu menjadikan acara itu segar.

“Apakah orangtua suka memaksakan kehendak anak hingga anak terluka dan terpaksa melakukan yang diinginkan orang tua?” tanya Bagus mengawali paparannya

Spontan saja orang tua menjawab, “Tidaaakk.”

Ada juga orang tua yang menjawab dengan keras, “Nggak lah.”

Tapi di sudut lain para siswa kompak menjawab, “Iyaaaaa…”

Jawaban spontan ini yang menimbulkan gelak tawa.

“Mana ini yang benar?” tanyanya sekali lagi.

“Ibumu memang mengandungmu selama 9 bulan 10 hari. Lalu ayahmu juga mengandungmu dalam hati dan pikiran seumur hidupnya,” ungkap psikolog lulusan Unair ini disambut tepukan tangan hadirin.

Meskipun demikian, orang tua tidak seharusnya memaksakan kehendak anak. Apalagi dalam memilih jurusan untuk studi lanjut mereka.

Sebagai orang tua, sambung Bagus, harus memberi kebebasan kepada anaknya untuk menentukan masa depannya. Jangan biarkan anak menjalani apa yang kita mau tetapi mereka terpaksa, terluka, dan tertekan.

“Saya mempunyai teman yang putranya suka berkelahi, hingga dikeluarkan dari sekolah,” tuturnya. Setelah dilihat latar belakang keluarganya diketahui, temannya, sang ayah sangat keras. Dan ibunya tak kalah cerewetnya. Akibatnya si anak memberontak.

Ayah dan ibunya meminta anak untuk bersekolah sesuai dengan keinginan mereka. Padahal anak ingin sekolah penerbang.

Setelah pindah ke sekolah penerbang yang sesuai passionnya, sikap anak itu berubah drastis. Prestasinya meningkat. Sepekan bersekolah di tempat yang baru, anak sudah mendapat pujian dari guru.

“Saya ketika itu langsung meminta teman saya untuk memberi pujian dan hadiah atas prestasi anaknya itu” kenangnya.

Jadi, sambung Bagus, tugas bapak ibu membangkitkan motivasi putra-putri untuk belajar lebih giat menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi. Orangtua diminta memberikan pelayanan pada saat anak belajar. Misalnya, membuatkan anak segelas susu hangat atau jus buah untuk menambah kekuatan otak untuk fokus belajar.

Orangtua, kata dia lagi, harus memahami karakter dan passion anak, kelebihan dan kelemahan potensi anak. Biarkan potensi yang ada dalam diri anak berkembang tanpa tekanan. Yang terpenting orang tua melakukan pendampingan, orang tua jangan sibuk main gadget terus dan medsos.

Dalam hal meminta anak untuk shalat, orang tua juga harus memberi contoh, tandasnya. Cara membangunkan anak shalat juga harus dengan cara yang baik.

Gaya bicara yang spontan dan interaktif Bagus dalam forum itu membuat siswa tidak mengantuk. Ada cara dia menyegarkan suasana. Ketika ada siswa yang duduknya tidak tegak. Ia pun menghampiri sambil berkata, “Nah ini, yang harus kalian hindari.” Dia memegang pundak siswa itu agar duduk tegak.

“Kalian harus keluar dari zona nyaman, paksa diri kalian untuk belajar lebih giat jangan woles dan malas untuk belajar menyiapkan masa depan,” paparnya. “Kalian juga harus bisa lepas dari gadget untuk hal – hal selain belajar, yang tidak bermanfaat, apalagi berjam jam menghabiskan waktu untuk selfie atau main game,” tuturnya. (Tanti)

Author:

I Am the Admin

Leave a comment

×
Assalamu Alaikum, Selamat Datang di Smamda