Cara Raja Menguji Kejujuran Lima Pemuda Calon Penggantinya

Di era yang serba mudah seperti sekarang ini—yang semua dapat diperoleh dengan cara instan—banyak orang yang tidak mau repot.

“Misalnya saja orang ingin makanan tinggal klik kemudian makanan datang. Tapi hal tersebut tidak boleh dilakukan dalam rangka menghadapi dan melakukan ujian-ujian (sekolah) yang akan dilakukan dalam tempo yang tidak lama lagi, karena itu perlu kesungguhan.”

Demikian disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim H. Nadjib Hami, MSi dalam acara pemantapan spiritual siswa kelas XII, Training for Excellent Life bertajuk Sukses dengan Motivasi Spiritual di Aula Mas Mansyur Gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Sabtu, (26/1/19).

Mengutip Ahmad Syauqy Bek, Nadjib mengungkapkan, eksistensi sebuah bangsa, sebuah masyarakat itu ditentukan oleh akhlaknya. “Jika sebuah masyarakat sudah abai terhadap akhlak, maka sirnalah bangsa itu,” tuturnya.

Di hadapan 310 siswa dan 250 orangtua siswa, ia menjelaskan salah satu aspek penting dalam akhlak adalah kejujuran, integritas.

“Dalam situasi apa pun kejujuran diperlukan karena itulah yang akan menentukan kebahagiaan dan kesuksesan hidup kita,” papar Calon Anggota DPD RI Dapil Jawa Timur ini nomor urut 41 ini.

Pria kelahiran Lamongan 1964 ini lalu berkisah tentang kejujuran yang diujikan di sebuah kerajaan.

Ada seorang raja yang sudah tua tetapi tidak punya anak, sehingga tidak bisa berharap punya keturunan sebagai pewaris tahta kerajaan di masa mendatang. Maka sang raja melakukan seleksi ke seantero kerajaan. Terpilihlah lima pemuda hebat yang memiliki kemampuan setara.

Namun karena sang raja hanya akan memilih satu, untuk itu sang raja menyeleksi lagi dengan cara yang unik. Mereka diberi bibit tanaman yang sama. Lantas raja berpesan, “Bawalah pulang bibit tanaman ini. Tanamlah dan rawatlah, dua pekan lagi, nanti, kalian datang ke tempat ini dengan membawa tanaman tersebut.”

Masing-masing pemuda, berusaha melaksanakan titah raja sebaik-baiknya, agar terpilih menjadi calon pengganti raja. Setelah tiba waktu yang telah ditetapkan, kelima pemuda menghadap sang raja. Pemuda yang pertama sampai keempat menunjukkan hasil tanaman yang bagus-bagus.

Tiba giliran pemuda yang kelima, datang dengan tatapan lesu dan memohon maaf karena ia merasa telah gagal melaksanakan perintah raja. Bibit yang diberikan raja ternyata tidak tumbuh tanaman. Ia sangat malu terhadap sang raja.

“Wahai para pemuda, sepertinya pemuda yang kelima ini gagal melaksanakan perintahku. Tapi dia yang saya tetapkan sebagai penggantiku, karena dia yang paling jujur,” kata sang raja.

Tentu, keempat pemuda lainnya protes, karena merasa tanaman yang ditunjukkan sang raja jauh lebih baik dibandingkn milik pemuda yang kelima. Kemudian sang raja menjelaskan bahwa bibit tanaman yang diberikan sudah direbus lebih dahulu, sehingga pasti tidak akan tumbuh tanaman.

“Engkau empat pemuda, telah membohongiku, kalian pantas dihukum,” ancam sang raja.

Nadjib mengatakan, inilah contoh buah manis bernama kejujuran atau integritas. “Sesuatu yang jarang kita temukan pada pemimpin-pemimpin bangsa kita ini,” terang mantan mantan Komisioner KPU Jatim ini.

“Saya berharap kepada siswa-siswi Smamda, selalalu punya integritas saat ujian nanti. Kejujuran juga harus tetap melekat, ketika nanti kalian menjadi pemimpin-pemimpin hebat untuk memajukan bangsa ini,” pesan Nadjib.

Kejujuran, sambungnya, tidak bisa hanya dilihat dari pernyataan semata, tetapi dibuktikan dalam tindakan sehari-hari. Ia juga berdoa agar semua yang hadir di mendapat berkah Allah SWT dan para orangtua menghadapi putra-putrinya yang ujian dengan gembira, tidak merasa tegang.

“Ingatlah bahwa ujian adalah peristiwa biasa. Ketika menghadapi ujian artinya akan naik kelas, akan naik maqam. Yang terpenting adalah memegang akhlak kita, dan kejujuran adalah salah satunya,” ujarnya. (Tanti)

Author:

I Am the Admin

Leave a comment

×
Assalamu Alaikum, Selamat Datang di Smamda