
SMAMDA.NET – Di tengah ketatnya persaingan masuk perguruan tinggi, kisah Siswa SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (smamda), Abqary Rasyid Zaffa Al-Habibie menjadi gambaran nyata bahwa jalan menuju impian tidak selalu mulus. Ada kegagalan, kekecewaan, namun juga harapan yang terus tumbuh.
Divo, sapaan akrab Abqary Rasyid Zaffa Al-Habibie, telah menambatkan cita-citanya di dunia kedokteran. Inspirasi itu lahir dari pengalaman pribadi saat melihat seorang dokter menangani pamannya yang berada dalam kondisi sulit. Keteguhan dan kesabaran dokter tersebut meninggalkan kesan mendalam, hingga akhirnya mendorong Divo untuk menapaki jalan yang sama.
Namun, langkahnya sempat terhambat. Sepulang dari lomba di Amerika Serikat, ia mendapati jadwal susulan Tes Kompetensi Akademik (TKA) dimajukan, sehingga tidak dapat mengikutinya. Padahal, nilai rapornya sudah memenuhi syarat. “Saya merasa hancur karena tidak bisa mendapatkan nilai TKA,” ujarnya, mengenang masa sulit tersebut.
Akibatnya, Divo gagal masuk kategori siswa eligible. Meski terpukul, ia tidak larut terlalu lama. Dukungan dari orang tua, guru, dan teman-temannya menjadi sumber kekuatan untuk bangkit dan mencari jalan lain.
Dengan keyakinan penuh, Divo mengambil keputusan berani: hanya mendaftar International Undergraduate Program (IUP) Kedokteran Universitas Airlangga (Unair). Ia mempersiapkan diri secara matang, mulai dari berkas administrasi hingga tes dan wawancara. Di tengah persaingan yang diikuti ratusan peserta berprestasi, Divo tetap melangkah dengan optimis.
Momen pengumuman menjadi titik emosional yang tak terlupakan. Pada hari Rabu, 15 April 2026, didampingi kedua orang tuanya, Divo membuka hasil seleksi dengan perasaan tegang. Saat dinyatakan diterima, haru pun pecah. Ia langsung merangkul orang tuanya dan bersujud syukur.
Rasa bahagia juga diungkapkan oleh sang mama, Fardani Annisa Damastuti. Ia mengaku sangat bersyukur atas pencapaian putranya. “Alhamdulillah, meskipun sempat gagal menjadi siswa eligible, Divo akhirnya bisa diterima di IUP Kedokteran Unair. Kami sangat bangga dan bersyukur,” tutur dosen ITS ini.
Divo mengungkapkan, keberhasilannya tidak lepas dari peran lingkungan smamda yang membantu mengarahkan pilihan masa depannya melalui berbagai bimbingan.
Kini, Divo menatap masa depan dengan harapan besar untuk menyelesaikan studi dan mengabdikan diri sebagai dokter.
Di akhir, Divo menyampaikan pesan sederhana namun penuh makna bagi para pejuang lainnya, “Tetap semangat dan percaya bahwa setiap orang punya jalan terbaiknya masing-masing.”
Kisah ini menjadi pengingat bahwa kegagalan bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses menuju keberhasilan yang lebih besar.
(Hajjar Ekasari)


Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.