Siswa SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (smamda), Shafa Kamilah Azalia Zahrani, berhasil diterima di Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) melalui jalur International Undergraduate Program (IUP)

Siswa SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (smamda), Shafa Kamilah Azalia Zahrani, berhasil diterima di Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) melalui jalur International Undergraduate Program (IUP) yang diumumkan pada hari Rabu, 15 April 2026.

Sejak kecil, sulung dua bersaudara yang akrab dipanggil Shafa ini sudah memiliki mimpi yang tidak biasa. Dunia kedokteran bukan sekadar cita-cita, tetapi panggilan hati yang tumbuh dari pengalaman pribadi saat ia dirawat oleh seorang dokter. Sosok tersebut meninggalkan kesan mendalam, bukan hanya karena kemampuan medisnya, tetapi juga karena pendekatannya yang manusiawi.

“Saya melihat dokter tidak hanya mendiagnosis penyakit, tetapi juga memahami kondisi sosial pasien. Itu membuat saya ingin menjadi dokter yang bisa membangun hubungan jangka panjang dengan pasien,” ungkap Shafa.

Keinginannya untuk masuk dunia kedokteran semakin kuat ketika ia mengenal jalur IUP Kedokteran Unair yang menawarkan pengalaman internasional dan lingkungan belajar global. Namun perjalanan menuju impian itu tidak mudah.

Kegagalan di jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) dan penolakan dari beberapa kampus lain seperti UI dan UNPAD tidak membuatnya menyerah. Sebaliknya, hal itu menjadi bahan bakar semangatnya. Ia memilih bangkit dan fokus mengejar satu tujuan: IUP Kedokteran Unair.

Sejak kelas XII, Shafa mempersiapkan diri dengan disiplin tinggi. Ia mengikuti tes TOEFL, memperbanyak latihan soal Tes Potensi Akademik (TPA), menyusun dan merevisi Motivation Letter berkali-kali, serta melatih kemampuan wawancara dalam bahasa Inggris.

Proses seleksi IUP sendiri berlangsung ketat. Setelah pengumpulan berkas seperti rapor, SKL, dan motivation letter, peserta harus mengikuti tes TPA berbahasa Inggris yang mencakup matematika dasar, sinonim-antonym, dan logical reasoning. Tahap berikutnya adalah wawancara daring langsung dengan dosen Kedokteran Unair.

“Karena semua dalam bahasa Inggris, saya harus benar-benar siap, terutama dalam motivation letter dan komunikasi,” jelasnya.

Perjuangan panjang itu akhirnya terbayar. Saat pengumuman tiba, Shafa dinyatakan diterima di IUP Kedokteran Unair, sebuah momen yang ia gambarkan penuh haru.

“Alhamdulillah, saya sangat senang. Bahkan saya sempat menangis karena sebelumnya ditolak dari kampus lain. Tapi akhirnya diterima di Unair,” ujarnya.

Di balik keberhasilannya, Shafa tidak lupa menyebut peran besar keluarga, terutama sang ibu.

“Terima kasih untuk mama yang selalu mendukung dan memotivasi saya. Keluarga, guru, dan teman-teman juga sangat berperan dalam perjalanan ini,” katanya.

Lia, sang ibu pun mengungkapkan rasa bangganya. Ia mengaku terharu membaca motivation letter yang dibuat sendiri oleh Shafa.

“Shafa benar-benar berjuang sendiri. Saya sampai terharu membaca motivation letter-nya, tidak menyangka dia bisa menulis sebaik itu,” ungkap sang ibu.

Shafa juga menilai sekolahnya, SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (smamda), memiliki peran besar dalam membentuk dirinya. Dukungan akademik, kesempatan mengikuti lomba, serta lingkungan yang mendorong perkembangan mental dan disiplin menjadi bagian penting dari prosesnya.

Kini, Shafa menatap masa depan dengan penuh harapan. Ia ingin terus berkembang, menjaga kerendahan hati, dan menjalani pendidikan kedokteran dengan sebaik mungkin.

Pesannya untuk para pejuang mimpi, sangat sederhana namun kuat:
“Jangan pernah menyerah. Ditolak itu bagian dari proses. Yang penting terus berusaha, percaya diri, dan jangan lupa berdoa. Kalau Allah sudah mengizinkan, pasti ada jalan.”

Kisah Shafa menjadi pengingat bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan bagian dari perjalanan menuju impian yang lebih besar.

(Hajjar Ekasari)

Author:

I Am the Admin